Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Sunday, June 2, 2019

Ibu Ani yang Dihormati dan Petugas KPPS yang Dilupakan

Well, mulai 3 Juni 2019 aku mau menuliskan banyak hal di sini. Tanpa banyak kaidah.
Jadi aku mulai berpikir. Blogku seharusnya wadahku mengekspresikan diri.

Berbagai gaya menulis mungkin akan sering tercampur ke depannya. But, if you think this new thing as a distraction and freak, just tell me. Kenyamanan pembaca tetap yang utama. Baiklah, satu hal yang ingin aku sharing kan kali ini. Entah akan banyak pembaca atau engga,  aku akan tetap menulis.

Mantan Penghujat Keluarga Cikeas 

Setelah Former First Lady-nya Indonesia, Bu Ani Yudhoyono meninggal dunia aku jadi merasa berdosa. Yap. entah aku termasuk korban berita atau bagaimana, tapi ketika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono meninggal, aku merasa banyak sekali dosanya kepada rakyat.

Masih ingat buku berjudul Seri "Gurita Cikeas?" Ini sampulnya.

Sumber Gambar: Bukalapak.com

Oh, aku masih ingat betul waktu itu kelas 2 atau 3 SMP. Aku mendapatkan tugas membuat portofolio tentang apapun. Kamu tahu apa yang kukumpulkan untuk ku beri komentar? Daftar masalah di Indonesia yang belum selesai semasa pak SBY menjabat.

Sepertinya pikiranku teracuni. Siapa sih pejabat yang tidak ingin menyelesaikan semua masalah di Negara yang sedang dipimpinnya?

Bukankah dulu aku menjadi kritikus yang tidak handal? Menggunakan ilmu "Pokoke Gathuk" untuk membuat teori konspirasi. Ketepatan salah satu jembatan yang baru jadi di Kalimantan ambrol. Bersamaan dengan itu beberapa bencana alam melanda Indonesia, dan aku juga merasa petir yang saat itu datang saat jembatannya ambrol adalah bukti semesta marah pada pemimpin negeri.

Apakah kamu membacanya sambil  ketawa?

Atau kamu juga merasa pernah menjadi kritikus serupa? Mengkritik yang tidak membangun. Lebih pantas disebut penghujat, yap. Sebangsa hater begitu.

Buku tersebut mungkin juga menjadi salah satu buku yang kontroversial semasa SBY menjabat. Bukankah di ingatanmu juga masih hangat bagaimana kemudian Bapak SBY menerima berbagai hujatan. Kerbau yang badan buluknya ditulis SBY, demonstrasi sampai bakar-bakar ban, membawa keranda mayat dan sederet hinaan dilontarkan pada mantan Presiden kita.

Sungguh berbeda antara orang berilmu dan tidak berilmu dan puncak dari ilmu adalah akhlaq. Sehingga di sini aku yakin orang yang berakhlaq sudah pasti berilmu.

Karena buah dari ilmu sendiri adalah akhlaq. Termasuk semakin mudah lisan kita menginjak-injak hasil kerja keras orang lain tanpa mengikuti prosesnya sebenernya adalah cerminan dari dangkalnya keilmuan kita.

Menghina Pemimpin

Ada, loh hadits Rasulullah SAW yang berderajat Hasan berbunyi:
مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن
“ Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224]).

Setelah membaca habis artikel ini kamu bisa lari ke artikel Kenapa Islam Melarang Menghina Pemimpin? supaya tahu, paham dan bisa menerima argumentasi ini. 
Sumber: Viva.co.id

Aku di sini hanya menyederhanakannya saja, ya. Sebuah kaum dzalim akan diberikan Allah SWT pemimpin yang dzalim pula. Demikianlah untuk pemimpin yang berwibawa, cerdas, tegas, bijaksana seperti Al Fatih hanya akan dikaruniakan kepada golongan yang hatinya tak pernah lepas dari Allah. 

Uh, jadi melting ga sih? Bukan kareka kisah Bu Ani Yudhoyono meninggal setelah 4 bulan di rumah sakit. Melting karena pasukannya Al Fatih dahulu tidak pernah lepas sholat malam meskipun dalam kondisi persiapan tempur. 

Tiba-tiba aku jadi ingat, ketika rakyat yang memilih belum teredukasi dengan cukup, maka tentu saja akan mudah terkelabuhi oleh calon pemimpin yang menyuapnya, yang menyapanya secara dekat, memegang tangan dan mendengarkan keluhannya sebelum pentas Pemilu. 

Tapi setelah pemilu? Yah, gigit jari. Hampir samalah dengan mencari pasangan hidup. Allah hanya akan memberikan yang menjadi cerminan diri kita saja. 

Pemberitaan Tidak Adil
Apakah kamu salah satu orang yang tidak membuat status di sosial media tentang Ibu Ani Yudhoyono meninggal ? Kenapa? Karena kamu geram 600-an petugas KPPS meninggal tidak heboh, satu orang anggota mantan pejabat negara meninggal seluruh stasiun televisi, kantor berita sampai para tukang cilok juga ikut mewek. 

Ani Yudhoyono menangis melihat rakyatnya, rakyat baru menangisi ketika sadar jasanya pada bangsa dan kamu masih belum sadar kenapa bisa seperti itu. 

Bukan karena mereka orang kaya lalu seluruh siaran membela. Oke, aku mulai beropini singkat nih. Di dalam penyelenggaraan ada yang namanya etika protokoler. Mulai dari tempat duduk pejabat negara sampai prosesi pemakaman semua sudah ada aturannya. 

Protokoler tidak hanya berlaku untuk presiden, setiap Walikota dan Gubernur tentu saja juga memilikinya. Sebuah negara atau institusi negara harus berwibawa dan Presiden adalah simbol negara. Lalu kalau sudah menjadi mantan, apakah masih berhak menerima itu semua? 

Ketika berdinas tentu sudah tidak ada etika protokoler yang ribet seperti masa aktif dinas, tapi ada momen tertentu yang tetap sudah diatur protokolernya. Terlebih keluarga Cikeas datang dari kalangan pejabat tinggi militer. 

Kedua adalah tentang jasa yang sudah mereka perbuat. Jika kamu iri melihat penghormatan rakyat bahkan kisah cinta Ani Yudhoyono dan SBY sampai dibuat meme dibandingkan dengan film 'Up', maka jadilah orang yang mendedikasikan hidupnya pada negara. Udah, gitu aja kok repot. Hehe mengutip kata Gus Dur. 

Orang-orang pahlawan demokrasi KPPS yang meninggal baru sekali mendedikasikan hidupnya yang langsung bersentuhan dengan penyelenggaraan negara secara resmi. Sementara orang-orang yang kita iri upacara pemakamannya adalah orang yang bergulat bertahun-tahun dengan konflik demi kepentingan negara. 

Berbagai penghargaan dari institusi kredibel untuk bu Ani kiranya bukan lagi sesuatu yang bisa menyangkal keikhlasan beliau ini dalam bekerja untuk negara. 

Yah, sejatinya aku cuma mau ngomong itu sih. Tapi sepertinya masih harus dilanjut lagi dengan seri tulisan lain. Menurutmu kenapa Bu Ani tidak berjilbab tapi meninggal bulan Ramadhan? Doakan aku segera dapat bahan untuk membahasnya ya. 

Read More

Tuesday, February 6, 2018

Ketua BEM UI 2018 Diberi Kartu Merah Oleh Sebagian Rakyatnya Setelah Aksi Nekadnya Mengartu Kuning Presiden Jokowi Dianggap Memalukan UI.



Dari kemarin malam jagad maya Indonesia dihebohkan oleh aksi nekad seorang pemuda yang hatinya terusik oleh kesemrawutan negeri. Zaadit Taqwa yang baru saja naik menjadi Ketua BEM UI 2018 dianggap memalukan almamaternya oleh sebagian rakyatnya sendiri. Saking badainya berita dan #KartuKuningJokowi di seluruh media sosial yang ada, followers instagram @Zaadit naik signifikan setiap detik. Hari pertama sampai 3 hari pasca kejadian followersnya hampir menyentuh angka 30k. Hal ini menunjukkan betapa besar respect rakyat Indonesia terhadap aksi Zaadit.

Berbagai akun-akun kontra pemerintah yang merasa sedang berjuang menegakkan keadilan ramai-ramai membela Zaadit Taqwa. Salah satu yang vokal menyuarakan Zaadit sebagai pahlawan adalah akun @Indonesiabertauhid. Di sisi lain, tidak sedikit warga UI yang merasa Zaadit telah mencoreng muka almamater. Di depan para pejabat tinggi negara, alumni UI, dan rakyatnya sendiri Zaadit bangkit dari duduknya, meniup peluit kemudian mengacungkan buku lagu UI bersampul kuning sehingga dari kejauhan tampak seperti sedang memberi kartu kuning pada Presiden.

Warga UI yang tidak suka dengan aksi Zaadit sibuk mengklarifikasi bahwa aksinya atas nama pribadi, bukan institusi UI. Dari pihak istana negara, Johan Budi mengonfirmasi pembatalan jadwal meeting bersama BEM UI yang seharusnya dilaksanakan setelah pidato Presiden di Balairung UI. Namun pihak BEM UI menyangkal ada jadwal seperti yang dikatakan istana akan membahas beberapa isu strategis.

Sikap bijak diperlihatkan oleh Presiden kita Bapak Ir. H. Joko Widodo dalam menanggapi penyambutan pembesar BEM berpengaruh di seantero negeri ini. Presiden malah bermaksud menyiapkan akomodasi supaya perwakilan BEM UI ada yang memantau langsung kondisi di Asmat, Papua. Mengapa obat-obatan dan bantuan tidak segera sampai dan campak terus mewabah. Menurutnya, pemerintah selama ini terus mengupayakan perbaikan insfrastruktur supaya medan di sana bisa diajak kompromi untuk menyalurkan bantuan kepada penduduk lokal.

Tuntutan lain yang membuat Ketua BEM UI mengambil jalan yang terkesan ekstrim tersebut adalah  isu akan dibatasinya pergerakan mahasiswa di kampus lewat peraturan baru serta wacana dwifungsi POLRI/TNI berlaku kembali. Sebenarnya wajar jika seorang Zaadit mengambil sikap berani tersebut. Sebagai seorang pemimpin dari organisasi yang disegani dan dijadikan teladan ratusan kampus lain, mengecewakan bila dia hanya diam pada saat Bapak Presiden berada di depan matanya. Itu adalah menit-menit emas Zaadit mendapat jawaban atas kegelisahannya selama ini.


Sejak aksi represif pemerintah terhadap personil BEM IPB beberapa waktu lalu, pemerintah dianggap anti kritik dan mahasiswa jadi tampak seperti musuh. Meskipun secara eksplisit para pejabat selalu mengatakan senang ditegur, namun kenyataan penyambutan kritikan yang disampaikan secara damai dan prosedural selalu mengecewakan. Bisa jadi itu pula yang membuat Zaadit merasa harus mengambil tindakan yang mengundang perhatian supaya suaranya didengar dan ditanggapi langsung oleh Presiden.

Bagi seorang aktivis, dapat duduk semeja dengan pejabat merupakan kesempatan emas untuk menyalurkan aspirasi teman-teman dan warga yang tak berani bicara. Aktivis adalah penyambung lidah rakyat. Jika pertanyaannya rakyat yang mana, maka kita tidak boleh memukul rata semua orang puas dengan kepemimpinan satu orang. Tidak sedikit rakyat Indonesia yang mengeluh atas kepemimpinan Presiden sejak sebelum Pak Jokowi. Hal ini wajar, biasa. Lalu aktivis-aktivis ini bertugas memperjuangkan apa yang mungkin masih dianggap belum menjadi fokus pekerjaan pemerintah. Ada kaum yang diperjuangkan.

Tidak semua netizen setuju dengan pendapat di atas. Pasti akan ada yang nyinyir 'Tidak begitu caranya mengekspresikan pendapat,' 'Kemana intelektualnya sebagai mahasiswa? Saya juga tidak suka dengan beberapa kebijakan Presiden, tapi saya tahu sopan santun.' Begitulah beberapa nyinyiran di sosial media yang terus bertebaran tiada henti. Pujian juga celaan terus datang menyerang Zaadit.
Jadi aktivis itu berat, dinyinyirin dunia maya juga dunia nyata. Harus siap dibenci dan dicap sembarangan. Antek-antek partai politik lah, aksi pesananlah, niatnya promosi organisasi ekstranya sampai numpang tenar cari tambahan followers biar dikira kekinian.

Netizen, don't judge someone stranger. Apakah dari aksi Zaadit yang sekali itu lantas pantas bagi kita yang belum memberikan solusi pada negeri ini  memaki-maki. Apalagi cacian dengan kata-kata kasar. Apakah kalian sudah tahu betul isi hati dan isi pikirannya sesaat sebelum beranjak dari kursi? Sudah memastikan dia hanya ingin ketenaran?

Jika kita kontra dengan sikapnya tidak perlu menanggapi berlebihan. Apalagi sampai menjadi penyebar kebencian. Wajar saja mahasiswa UI lain marah dengan sikap Zaadit, wajar pula mahasiswa UI sebagian lain mendukung aksi Ketua BEM-nya, wajar Bapak Jokowi bersikap tenang, wajar Paspampres mengamankan Zaadit, wajar followersnya bertambah gila-gilaan, wajar banyak yang menganggap UI The Real Kampus Perjuangan sementara lainnya menganggap UI sudah tak lagi ilmiah.

Semuanya wajar saja kok. Bapak Rumah Kepemimpinan yang membesarkan Zaadit ikut angkat bicara. "Itu menyampaikan aspirasi dengan sensasi dengan maksud menarik perhatian. Menurut saya biasa saja. Tak ada yg istimewa untuk dikomentari." Ujar Mahfud Md.

Harusnya jika merasa ilmiah mari kita membahas konten aspirasi yang dibawa Zaadit, bukan sibuk mengartu merah aksi nekad Zaaditnya saja. Kira-kira bagaimana cara mengatasi campak di Asmat, mengapa suara mahasiswa akhir-akhir ini kentara sekali sengaja dibungkam dan bagaimana caranya supaya mahasiswa kritis tetap bersuara tanpa anarkis, juga perjuangan independensi militer kita dari pengaruh politik praktis yang di masa lalu diperjuangkan mati-matian tapi sekarang hendak dibangkitkan.

Pada akhirnya orang-orang yang belum merasakan sensasi perjuangannya menjadi aktivis akan mudah mengolok-olok aksi nekad Zaadit. Beberapa mahasiswa UI merindukan pemimpin lamanya yang turun dengan hormat mengantongi 90% kepuasan rakyat atas kinerjanya selama menjabat. Namun sebagai sesama aktivis mereka sering berkomunikasi dengan caranya sendiri.
Mujab tahu benar cara bijak menjawab serbuan netizen yang sedari kemarin mendesaknya angkat bicara tentang penerusnya tersebut. Dalam tulisannya, Mujab mengatakan kartu kuning pantas didapatkan oleh pemerintah sekaligus BEM UI jika tidak bekerja untuk rakyat Indonesia dan kartu kuning untuk dirinya sendiri. Sebuah tulisan independen yang diposting Mujab di akun media sosialnya akan membuka mata netizen supaya tidak menilai setiap aksi hanya dari satu jenis kacamata saja.

Tidak akan berkurang kontribusi UI kepada negeri hanya karena keberanian ketua BEM-nya ingin suaranya didengar. UI tetap memberikan sumbangsih berarti bagi Indonesia. Semoga aksi Zaadit membawa dampak baik bagi pergerakan mahasiswa, bukan bersanding ramai dengan kasus pelakor yang baru dilabrak anak di bawah umur. Ya, kartu kuning memang pantas kita terima jika diam saja melihat Indonesia yang tidak baik-baik saja.
Read More

Sunday, January 7, 2018

Naskah Orasi di Depan Calon Mahasiswa

Assalamu’alaykum Wr Wb
Assalamu’alaykum Wr Wb
SMAPTA!
Ribuan tahun lalu ada seorang pemuda yang memiliki tekad mempersatukan nusantara di bawah satu bendera panji Majapahit. Semua pelajar kita tahu siapa namanya. Gajah Mada. Seorang pemuda yang menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara di zamannya memiliki visi jauh ke depan. “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.” Yang kemudian dijadikan pegangan bagi segenap rakyat Indonesia setelah merdeka.
Bayangkan jauh di zaman itu orang-orangnya telah memahami keadaan bangsanya untuk kemudian menyusun strategi mempersatukan semua golongan. Lantas apa yang terjadi di zaman kita dewasa ini seharusnya sudah cukup menyentakkan kesadaran. “Apa yang sudah saya berikan untuk bangsa ini atas kesegaran air yang diberikan sebagai penghidupan, atas sinar matahari yang membuat bangsa lain berdatangan kemari, atas tanah yang katanya secuil turunan surga, atas seluruh kekayaan alamnya yang seperti gadis seksi dan membuat Indonesia diincar bangsa-bangsa asing.” Jangan menutup mata, bekas kejayaannya ada di bumi tempat kita semua berpijak hari ini. Kediri.
Pernahkah kawan-kawan di sini bersedih, tiba-tiba insomnia ketika mendengar emas-emas kita yang terbaik di dunia diambil oleh orang asing sedangkan masyarakat di sekitarnya masih terbelakang dalam pendidikan dan kesejahteraan. Pernahkah kawan-kawan merasa marah setiap hari terjebak kemacetan sementara cuaca dan udaranya panas, pengap, penuh polusi lalu berpikir keras jalan keluar model apa yang dapat aku sumbangkan untuk menyelesaikan keruwetan jalanan? Dan pernahkah kawan-kawan bingung kesana-kemari mencari referensi untuk mencarikan solusi atas pertikaian-pertikaian yang tercipta akibat berebut rupiah di panggung politik? Semuanya akan mulai terasa pada saat kita menjadi mahasiswa.
Jika ada Bapak Ibu di jajaran akademik mengatakan ‘belajar yang rajin saja ya nak, jangan macam-macam.’ Maka dengan lembut mari kita iyakan ‘iya Bapak/Ibu. Kami tentu akan belajar memahami realitas, membaca lebih banyak buku untuk mencari jawaban atas kebingungan-kebingungan mengapa kehidupan memberikan banyak sekali permasalahan.’ Menjadi maha dari sekian tingkat jenjang sekolah formal akan memberimu rasa lega sekaligus syukur. Bukan untuk dipamerkan karena sudah memiliki almamater bergengsi. Bukan. Ini semua adalah babak dimana pengabdian dimulai.
Turut bersedih ketika mendengar wacana baru dilontarkan oleh pemerintah setiap tahunnya. Beberapa diantaranya direalisasikan kepada anak-anak kelas 3SMA yang hendak masuk ke perguruan tinggi. Jika saat ini yang jurusannya IPA benar-benar dilarang masuk ke perguruan tinggi lintas jurusan maka dengan kasih sayang kami jelaskan kondisinya kepada adik-adik.
Indonesia, melalui Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) tahun 2015, berkomitmen ikut agenda pembangunan global pada kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG). Kerangka itu ialah perpanjangan program Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal/MDG) yang selesai tahun 2015 lalu.
Indonesia kita sudah terlambat 8-10 tahun dalam pelaksanaan MDG, sehingga belum mampu mencapai target 19 indikator dari 67 indikator MDG. Indikator yang tidak tercapai antara lain mengurangi penduduk miskin, menekan kematian ibu melahirkan dan meminimalkan jumlah balita bergizi kurang. Sebagian besar dari indikator di atas ada dalam sektor kesehatan, namun dipicu berbagai sektor lain seperti pendidikan, sanitasi dan keterbatasan infrastruktur. Kegagalan pencapaian target MDG juga disebabkan kurang dilibatkannya kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha. Data ini diambil dari Kompas tahun 2016.
Jadi kami sendiri yang sudah duduk di perguruan tinggi pun berharap adik-adik menjadi generasi pencetus inovasi solutif, bukan hanya mengomentari. Sering ada intermezo di kalangan kami sendiri. Tanpa menyepelekan anak IPS karena saya sendiri juga IPS katanya negeri ini sudah terlalu banyak lulusan IPS. Itu mengapa lebih banyak penduduk berkomentar daripada memberi jawaban dari problem sosial. Kita butuh lebih banyak pengembang teknologi, arsitek, dokter, dan berbagai disiplin ilmu dalam rumpun alam dan teknologi untuk menjadikan Kediri semetro Jakarta, sesejuk Malang, seromantis Bandung. Nanti jika sudah di perguruan tinggi, adik-adik tidak akan sempat mengeluh lagi karena semua ini realitas yang harus dihadapi.
Silahkan adik-adik nanti tanyakan kepada kakak-kakak yang ada di sini. Apakah pernah mendengar dosennya menjelaskan tentang kebutuhan Indonesia. Visi  rencana pembangunan jangka panjang nasional 2005-2025 adalah Indonesia yang maju, adil, dan makmur. Memang hanya 3 kata saja, tapi usaha mewujudkannya memerlukan kerjasama dari semua pihak  termasuk kaum muda. Dan kaum muda yang banyak menjadi tumpuan adalah mahasiswa. Kenapa? Selain karena memang semangat  muda biasanya menggebu-gebu untuk merubah dan memperbarui kondisi yang membosankan. Mahasiswa adalah golongan muda yang punya intelektualitas, yang jumlahnya pun mengerikan bila bersatu, dan kita datang berbagai disiplin ilmu kebutuhan negara serta tersebar di berbagai wilayah negara ini.
Adik-adikku, ada saatnya dimana keluhan-keluhan kita kepada pemerintah yang terlihat semakin mempersulit, merepotkan akan berganti menjadi ucapan ‘Oke, saya sadar keadaannya dan saya siap jadi agen perubahan itu.’ Tidak rindukah kita semua pada cerita ayah bunda, kakek nenek tentang betapa dulu Indonesia dapat menjadi macan Asia, diplomatnya disegani di kancah internasional, berasnya kita swasembada. Sekarang? Jangankan beras swasembada malah muncul beras plastik, impor garam sampai tenaga kuli saja kita impor dari asing. Di bangku perkuliahan ketika nanti kita sudah menyandang gelar ‘mahasiswa’ perlahan-lahan kita akan mengerti mengapa semua hal itu terjadi. Sehingga kita tidak sempat menyalahkan pemerintah atau pihak tertentu atas kondisi yang terjadi.
Iklim mahasiswa adalah iklim ilmiah. Selamat datang di dunia penuh dinamika dan hampir segalanya dapat dijelaskan. Ketika nanti jam tidur mulai berkurang terus menerus demi  tugas-tugas kuliah, demi meneliti kasus baru, demi mengutak-atik barang di laboratorium mohon tutup mulut supaya tidak terus terusan mengeluh. Anggap saja ini semua demi balas jasa kepada tanah air kita. Atas seringnya cengingisan kita saat upacara hari Senin sepanjang 12 tahun padahal pemuda pendahulu kita rela bertikai dengan golongan tua serta menghadapi militer asing beberapa negara hanya demi mengatakan satu kalimat ajaib “Indonesia merdeka dan berdaulat.”
Merdeka!
Jangan sampai kemudian kita acuh terhadap kondisi bangsa ini. Jangan sampai kita jadi manusia yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Setiap hari menghirup udara hasil pohonnya Indonesia tapi enggan terlibat memperbaiki tatanan kehidupannya malah merusak. Kontribusi tidak selalu harus berdampak besar langsung saat itu juga. Satu per satu, selangkah demi selangkah. Kita mulai dari  diri sendiri. Sikap, manajemen waktu, manajemen hati, manajemen hidup yang visioner yang sudah tahu satu-tiga-lima-sepuluh tahun ke depan akan menjadi manusia seperti apa.
Coba di sini adik-adik siapa yang sudah punya rancangan mau kuliah dimana? Angkat tangan!
Yang sudah pasti kerja!
Yang sudah yakin dengan cita-citanya akan menjadi apa, dimana dan kapan?
Yak. Kami ucapkan selamat datang di dunia mahasiswa. Di mana bila kita enggan keluar dari zona nyaman semasa kuliah, hanya pulang pergi kuliah-mall-cafe saja maka bersiaplah menjadi onggokan pengangguran. Kecuali jika Tuhan berbaik hati menjodohkan kita dengan pasangan mapan. Itupun tidak menjamin. Bagi adik-adik yang memilih kuliah di jurusan berprospek menjanjikan ‘katanya’, hari ini kami katakan. Jaminan itu jadikan motivasi saja. Jika pasar membutuhkan lulusan jurusan itu dan siap menggaji tinggi maka bukalah pikiran kalian, pasti bukan hanya kalian saja yang tergiur mendapatkan posisi tertentu tersebut. And welcome to the jungle.
Dunia pekerjaan kejam, akan ada saatnya kita terpaksa menjegal teman sendiri demi sebuah posisi. Maka persiapkan amunisimu lebih dini. Mari mengambil peran, mari menjadi generasi intelektual yang bukan hanya mencaci tapi juga memberi solusi. Jika berkeras tidak mau terlibat maka kita tidak pantas marah saat koruptor sekelas Setya Novanto semakin menjadi-jadi, atau tanah lapang semakin sempit, beras semakin mahal, biaya sekolah bertambah, dan pada akhirnya tibalah di zaman umur matang tapi nikah menjadi barang mewah. Jangan salahkan keadaan karena pengutukanmu tidak akan merubah apapun. Lebih baik mari kita akhiri dengan menyanyikan lagu wajib mahasiswa yang melegenda. Totalitas Perjuangan. Semoga Tuhan meridhoi niat baik kita dalam memilih perkuliahan.
 Wassalamu’alaykum Wr Wb
Read More