Showing posts with label tokoh jagoan. Show all posts
Showing posts with label tokoh jagoan. Show all posts

Sunday, June 2, 2019

Ibu Ani yang Dihormati dan Petugas KPPS yang Dilupakan

Well, mulai 3 Juni 2019 aku mau menuliskan banyak hal di sini. Tanpa banyak kaidah.
Jadi aku mulai berpikir. Blogku seharusnya wadahku mengekspresikan diri.

Berbagai gaya menulis mungkin akan sering tercampur ke depannya. But, if you think this new thing as a distraction and freak, just tell me. Kenyamanan pembaca tetap yang utama. Baiklah, satu hal yang ingin aku sharing kan kali ini. Entah akan banyak pembaca atau engga,  aku akan tetap menulis.

Mantan Penghujat Keluarga Cikeas 

Setelah Former First Lady-nya Indonesia, Bu Ani Yudhoyono meninggal dunia aku jadi merasa berdosa. Yap. entah aku termasuk korban berita atau bagaimana, tapi ketika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono meninggal, aku merasa banyak sekali dosanya kepada rakyat.

Masih ingat buku berjudul Seri "Gurita Cikeas?" Ini sampulnya.

Sumber Gambar: Bukalapak.com

Oh, aku masih ingat betul waktu itu kelas 2 atau 3 SMP. Aku mendapatkan tugas membuat portofolio tentang apapun. Kamu tahu apa yang kukumpulkan untuk ku beri komentar? Daftar masalah di Indonesia yang belum selesai semasa pak SBY menjabat.

Sepertinya pikiranku teracuni. Siapa sih pejabat yang tidak ingin menyelesaikan semua masalah di Negara yang sedang dipimpinnya?

Bukankah dulu aku menjadi kritikus yang tidak handal? Menggunakan ilmu "Pokoke Gathuk" untuk membuat teori konspirasi. Ketepatan salah satu jembatan yang baru jadi di Kalimantan ambrol. Bersamaan dengan itu beberapa bencana alam melanda Indonesia, dan aku juga merasa petir yang saat itu datang saat jembatannya ambrol adalah bukti semesta marah pada pemimpin negeri.

Apakah kamu membacanya sambil  ketawa?

Atau kamu juga merasa pernah menjadi kritikus serupa? Mengkritik yang tidak membangun. Lebih pantas disebut penghujat, yap. Sebangsa hater begitu.

Buku tersebut mungkin juga menjadi salah satu buku yang kontroversial semasa SBY menjabat. Bukankah di ingatanmu juga masih hangat bagaimana kemudian Bapak SBY menerima berbagai hujatan. Kerbau yang badan buluknya ditulis SBY, demonstrasi sampai bakar-bakar ban, membawa keranda mayat dan sederet hinaan dilontarkan pada mantan Presiden kita.

Sungguh berbeda antara orang berilmu dan tidak berilmu dan puncak dari ilmu adalah akhlaq. Sehingga di sini aku yakin orang yang berakhlaq sudah pasti berilmu.

Karena buah dari ilmu sendiri adalah akhlaq. Termasuk semakin mudah lisan kita menginjak-injak hasil kerja keras orang lain tanpa mengikuti prosesnya sebenernya adalah cerminan dari dangkalnya keilmuan kita.

Menghina Pemimpin

Ada, loh hadits Rasulullah SAW yang berderajat Hasan berbunyi:
مَنْ أَهَانَ السُّلْطَانَ أَهَانَهُ اللهُ. رواه الترمذي وقال: حديث حسن
“ Barangsiapa yang menghina seorang penguasa, maka Allah akan menghinakannya.” (HR al-Tirmidzi [2224]).

Setelah membaca habis artikel ini kamu bisa lari ke artikel Kenapa Islam Melarang Menghina Pemimpin? supaya tahu, paham dan bisa menerima argumentasi ini. 
Sumber: Viva.co.id

Aku di sini hanya menyederhanakannya saja, ya. Sebuah kaum dzalim akan diberikan Allah SWT pemimpin yang dzalim pula. Demikianlah untuk pemimpin yang berwibawa, cerdas, tegas, bijaksana seperti Al Fatih hanya akan dikaruniakan kepada golongan yang hatinya tak pernah lepas dari Allah. 

Uh, jadi melting ga sih? Bukan kareka kisah Bu Ani Yudhoyono meninggal setelah 4 bulan di rumah sakit. Melting karena pasukannya Al Fatih dahulu tidak pernah lepas sholat malam meskipun dalam kondisi persiapan tempur. 

Tiba-tiba aku jadi ingat, ketika rakyat yang memilih belum teredukasi dengan cukup, maka tentu saja akan mudah terkelabuhi oleh calon pemimpin yang menyuapnya, yang menyapanya secara dekat, memegang tangan dan mendengarkan keluhannya sebelum pentas Pemilu. 

Tapi setelah pemilu? Yah, gigit jari. Hampir samalah dengan mencari pasangan hidup. Allah hanya akan memberikan yang menjadi cerminan diri kita saja. 

Pemberitaan Tidak Adil
Apakah kamu salah satu orang yang tidak membuat status di sosial media tentang Ibu Ani Yudhoyono meninggal ? Kenapa? Karena kamu geram 600-an petugas KPPS meninggal tidak heboh, satu orang anggota mantan pejabat negara meninggal seluruh stasiun televisi, kantor berita sampai para tukang cilok juga ikut mewek. 

Ani Yudhoyono menangis melihat rakyatnya, rakyat baru menangisi ketika sadar jasanya pada bangsa dan kamu masih belum sadar kenapa bisa seperti itu. 

Bukan karena mereka orang kaya lalu seluruh siaran membela. Oke, aku mulai beropini singkat nih. Di dalam penyelenggaraan ada yang namanya etika protokoler. Mulai dari tempat duduk pejabat negara sampai prosesi pemakaman semua sudah ada aturannya. 

Protokoler tidak hanya berlaku untuk presiden, setiap Walikota dan Gubernur tentu saja juga memilikinya. Sebuah negara atau institusi negara harus berwibawa dan Presiden adalah simbol negara. Lalu kalau sudah menjadi mantan, apakah masih berhak menerima itu semua? 

Ketika berdinas tentu sudah tidak ada etika protokoler yang ribet seperti masa aktif dinas, tapi ada momen tertentu yang tetap sudah diatur protokolernya. Terlebih keluarga Cikeas datang dari kalangan pejabat tinggi militer. 

Kedua adalah tentang jasa yang sudah mereka perbuat. Jika kamu iri melihat penghormatan rakyat bahkan kisah cinta Ani Yudhoyono dan SBY sampai dibuat meme dibandingkan dengan film 'Up', maka jadilah orang yang mendedikasikan hidupnya pada negara. Udah, gitu aja kok repot. Hehe mengutip kata Gus Dur. 

Orang-orang pahlawan demokrasi KPPS yang meninggal baru sekali mendedikasikan hidupnya yang langsung bersentuhan dengan penyelenggaraan negara secara resmi. Sementara orang-orang yang kita iri upacara pemakamannya adalah orang yang bergulat bertahun-tahun dengan konflik demi kepentingan negara. 

Berbagai penghargaan dari institusi kredibel untuk bu Ani kiranya bukan lagi sesuatu yang bisa menyangkal keikhlasan beliau ini dalam bekerja untuk negara. 

Yah, sejatinya aku cuma mau ngomong itu sih. Tapi sepertinya masih harus dilanjut lagi dengan seri tulisan lain. Menurutmu kenapa Bu Ani tidak berjilbab tapi meninggal bulan Ramadhan? Doakan aku segera dapat bahan untuk membahasnya ya. 

Read More

Wednesday, October 18, 2017

Mahasiswa UM Melayani Anak Berkebutuhan Khusus di Desa Tersembunyi



Menjadi luar biasa memang butuh air mata, keringat bahkan darah yang harus dikorbankan sebelum mencapainya. Kira-kira ucapan dari Bapak Mantan Presiden ke-3 RI, Ing. B.J Habibie bikin aku tidak gampang tertarik dengan hasil-hasil menggiurkan tanpa proses. Keinstanan memang menggoda, tapi ibarat mie instan, proses itu tidak menyehatkan sama sekali. Hanya saja memberi kepuasan sesaat, kenyang sebentar.

Dahulu ketika sedang menempuh pendidikan sejak SD-SMA, aku punya banyak cita-cita yang ku pikir semuanya tinggi. Aku tidak ingin menyebut diriku sendiri tidak tahu diri, tapi marilah kita sama-sama membangun mental positif dan percaya kita juga bisa menjadi apa yang kita impikan. Bukankah Tuhan telah mengizinkan kita bermimpi? Lantas kenapa harus ragu kalau impian-impian besar terlalu muluk?
Jendela Depan SLB Tamima Mumtaz

Membanggakan Indonesia?
Memberikan warna pada kehidupan orang lain ternyata tidak harus dengan kita menjadi pengendali kekuasaan di negara ini. Pikiran simpel yang baru aku pahami pada saat di bangku perkuliahan mendorong kami untuk take action daripada hanya sekadar menyusun mimpi sistematis. Selama ini kami berani bermimpi, tapi belum tahu keajaiban bagaimana yang akan diturunkan Tuhan agar harapan-harapan baik itu bisa menjadi kenyataan.


Membuat orang lain dalam suatu lingkungan tersenyum karena merasa kondisi hidupnya sudah lebih baik merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kami, dan kamu pastinya. Apalagi kalau melihat mereka semakin mendekatkan diri pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukurnya, sensasi kalau ternyata keberadaan kita useful bakalan lebih plus-plus.


Di sini aku ingin bercerita tentang action yang udah aku dan teman-teman serta kakak-kakak dari HMJ PLB UM (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang) berikan untuk masyarakat. Yakan kembali lagi ke tridharma perguruan tinggi –ceilah, ala PKKMB- dimana tridharma ketiga,  yaitu pengabdian belum menjadi bagian dari jiwa mahasiswa sekarang. Aku tidak bermaksud menjudgement siapapun karena ini sebenarnya juga notes for myself. Mungkin kalau nggak diajakin sama kakak-kakak yang super inspired ini aku juga gak akan ikutan ngasih kontribusi.
Pasti kamu kalau ditanyain “Kenapa Indonesia harus bangga punya kamu?,” “Yakin udah pantes disebut putra bangsa?” “Udah pernah ngasih apa aja buat Indonesia” dan sederet pertanyaan semacam itu pasti akan muncul ketika kamu berusaha ngedapetin beasiswa, terutama yang sumbernya dari Pemerintah atau lembaga swasta lain yang memang sudah profesional. Yap. Dulu ketika aku masih masa perjuangan reaching beasiswa ini itu aku juga bingung. Duh, aku mah apa atuh, ikut lomba lolos tingkat nasional aja belum, apalagi ngasih medali buat harumin nama negara.

Pikiran seperti itu udah pantes dibilang kolot. Bukankah perubahan besar dimulai dari step-step kecil? Walaupun dikit, tapi real and clear kita ngasih impact ke lingkungan. Itu udah bagian dari membantu usaha pemerintah membangun negara. Iya kan? Lingkungan yang kita bikin senyum itu bagian dari Indonesia kan? That’s why we should remain holding our commitment to serve our sector passion.

OTW Mendirikan SLB
Oke deh, sekarang aku mau langsung cerita apa sih yang udah diusahakan sama HMJ PLB UM buat mendidik putra putri bangsa ini. Well, jadi guru reguler dibanding guru anak luar biasa pastinya tak ternilai. Kita sama-sama dobel dapetnya, akhirat dan dunia. Tapi proses mendidiknya tentu beda. Di sini kelebihannya guru hasil outcome dari Pendidikan Luar Biasa. Kita bisa terjun untuk anak regular maupun anak luar biasa. But,  nowadays beberapa jurusan pendidikan sudah dibekali materi untuk persiapan menjadi guru sekolah inklusif.

Salah Satu Siswa Autis-Low Vision
Ini adalah kegiatan kami ketika berada di Desa Madiredo, Pujon. Pastinya harapan awal kami ingin mendirikan Sekolah Luar Biasa di sana. Namun karena beberapa kendala seperti biaya pembangunan dan operasional, tenaga, sampai waktu jadinya anak-anak yang lucu ini hanya bersekolah pada hari Sabtu dan Ahad. –Ahad sama dengan Minggu.

Jika ada murid 7 termasuk sudah mencukupi dan memang cukup layak disebut sebagai SLB karena telah memungkinkan diselenggarakannya kelas belajar pembelajaran. Namanya juga murid luar biasa, selalu memberikan tantangan yang luar biasa pula kepada siapa saja yang bermaksud terjun menyentuh mereka. Kadang tidak semua orangtua telaten menyekolahkan anaknya meski hanya dua kali dalam sepekan. Tidak semua anak juga memiliki tingkat perhatian dan minat bersekolah tinggi. Dari sini aku sadar, tidak perlu jauh-jauh mencari tempat terpencil di perbatasan Indonesia-Malaysia kalau ternyata di daerah-daerah yang masih masuk Pulau Jawa juga banyak kekurang merataan kesempatan.
Bagian Dalam SLB Tamima Mumtaz

Sementara itu, beberapa anak sangat bersemangat sekolah. Meskipun terkadang harus dijemput dulu ke rumahnya karena keluarganya tidak ada yang mengantar lalu menunggu pendidik sampai datang ke Balai Desa Madiredo –tempat SLB sementara . Melihat senyum di wajah mereka, mengingat ketika mereka menarik tangan kita dan meminta bimbingan menuju SLB Mumtaz –nama SLB sementara- semangat kita justru bertambah lagi. “Ayo sekolah” Ucapan seperti itu benar-benar menjadi pemicu bagi kami para volunteer.

Para murid di sana tidak memiliki hambatan yang sama. Ada yang tunaganda (Ketunaan dobel), autis, low vision (Tuna netra yang masih punya sisa penglihatan meski bendanya harus didekatkan), tunadaksa (Ketunaan pada bagian anggota gerak tubuh), dan tunagrahita (IQ di bawah rata-rata).

Memberi Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
Yusuf, seorang penyandang autis sekaligus low vision yang dulunya waktu pertama kali mahasiswa kami menyentuh desa tersebut dia tidak banyak bicara. Karakter pendiam, tidak merespon, tapi sebenarnya bisa bahkan cerdas itu adalah salah satu ciri anak autis. Ada kepuasan tersendiri pada saat anak mengalami peningkatan dalam hal apapun. Bagi kami, mengajarkan akhlaq atau tata krama bagi anak luar biasa lebih penting daripada memaksa mereka harus sama seperti orang lain. Kemudian setelah itu, barulah mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan psikomotor (keterampilan).




Mengenalkan mereka kepada nama buah, hewan, melempar bola, mengucapkan salam, berkasih sayang sesama teman dan mengajari angka serta alphabet adalah bagian dari usaha kami. Anak luar biasa membutuhkan pengulangan-pengulangan alias repetition pada saat dia mempelajari sesuatu yang baru. Jika guru tidak telaten, sama-sama kasihan antara anak dan guru itu sendiri. Oleh sebab itulah kami juga berusaha all out melayani kebutuhan khusus mereka.

Kakak dari salah satu ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sering membelikan es krim di ujung jam kelas. Stimulus seperti ini bisa membiasakan diri anak mandiri mengurus dirinya sendiri seperti makan tanpa bantuan orang lain.
sumber: dok pribadi
Ada satu anak bernama Putri yang membuatku ingat lagi betapa pentingnya apresiasi terhadap karya orang lain. Putri ini seorang tunadaksa juga tunagrahita. Umurnya sudah 9 tahun tapi tubuhnya sangat kurus kering karena tidak tumbuh secara sempurna. Untuk mandi saja dia masih bergantung kepada ibunya. Namun dia menyadarkan kami akan nilai “Kalau ingin dihargai maka hargailah orang lain.” Setiap Putri berhasil menyebutkan nama buah atau sukses melakukan instruksi lain dari guru, dia selalu meminta orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan untuknya.

Putri belum bisa bicara, lidahnya sangat pendek. Jadi dia menepuk lantai atau memegang orang yang belum memberi tepuk tangan untuk keberhasilannya. Sehingga kami terbiasa memberi apresiasi tanpa diminta sebagai bentuk penghormatan atas usaha orang tersebut, baik benar atau salah, sesuai ekspektasi atau tidak.

A Circumstance
Lalu bagaimana awal mulanya mahasiswa UM bisa menjadi pendidik di Desa https://visitmadiredo.wordpress.com/2016/01/29/visit-madiredo/. Dulunya tempat ini menjadi lokasi KKN kakak tingkat sebelumnya. Kami juga melihat ada beberapa Universitas selain www.um.ac.id yang pernah menjangkau tempat tersebut. Beberapa peninggalan berupa mainan dan media ABK adalah sumbangan dari mahasiswa www.ub.ac.id dan www.uns.ac.id. Setelah itu HMJ PLB UM beserta dosen di sini berinisiatif melanjutkan pemberian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sana.
Jalan Menuju Desa Madiredo


Ibu Lurah Desa Madiredo sampai saat ini masih mengusahakan dukungan sarana prasarana yang lebih mendukung demi kemajuan penyelenggaraan pembelajaran. Hingga kini pun kami sebagai volunteer masih mencari ke sana-ke sini bantuan buku untuk materi anak TK, supaya anak-anak di sana punya lebih banyak pengalaman nyata dalam usahanya mengenal dunia di mana setiap benda punya nama dan setiap kejadian ada ceritanya.

Jangan ditanya dikasih gaji berapa buat rasa capek Kota Malang-Pujon dua kali sepekan. Bukannya masing-masing dari kita juga butuh liburan, ada tugas kampus, harusnya jatah pulang kampung? Okedeh. Don’t bothered the other. Jangan ngrepotin temen kamu yang udah jaga komitmen melayani anak berkebutuhan khusus dengan hal-hal egois. Kalau kita tulus ikhlas dan berkomitmen inshaallah pasti ada aja keberkahannya kok. Seriusan deh. Bisa jadi lebih lancar saat memahami materi di kelas, lebih dekat sama dosen, atau semakin dekat sama jodoh –eh. Soal liburan, slow man slow, pelayanan bukan mengasingkan diri kok. Madiredo yang terbilang terpencil ini indah banget. Ala hawa kaki pegunungan gitu.


Hawa Adem Sepanjang Perjalanan


Kami adalah tim. Kalau memang ada yang harus izin ya izin nggak dateng, thus yang lainnya ngegantiin dateng ngajar anak-anak. Kalau gak ada yang bisa, mari kita sama-sama ingat harapan mereka dan orang-orang di Madiredo tentang bisa sekolahnya anak-anak ABK itu. Otomatically kalau masih normal, pasti ada beban moral dong ya. Iya, jaga komitmen itu susah, bukan Cuma komitmen pernikahan, tapi juga komitmen jadi bagian dari  volunteerpujon.

Well done. Sampe sini makasih banget udah nyimak cerita kami sebagai volunteer anak berkebutuhan khusus di Pujon. Semoga manfaat ya, btw kalau ada informasi tentang donatur buku yang tadi komen dong atau email boleh.  Doain semoga segera ada SLB formal di sana :-) Let's bright our environment.
Read More

Thursday, January 12, 2017

Nanda Mei Sholihah : Atlet Nasional Tanpa Lengan Penyabet Medali Emas di ASEAN

credit picture : www.kompas.com
Tidak ada ibu di dunia ini yang berharap melahirkan seorang anak cacat fisik, apalagi cacat mental. Namun takdir bukan dikendalikan oleh manusia sebagai pihak yang menjalaninya. Ada kekuatan yang paling Maha lebih berhak menentukan sebuah takdir. Tugas kita sebagai manusia bukan untuk menghakimi, mengomentari atau sok bersimpati. Lebih dari itu, manusia harus bisa mengambil pelajaran hidup dari setiap peristiwa yang terjadi. Termasuk segala fenomena di sekitar kita, kecil atau besar. Dan kisah ini akan menceritakan tentang seorang anak penyandang difabel dari kota Kediri. Hust.... ngomong-ngomong cewek tangguh ini adik kelasku sendiri, lhoh. SMA Negeri 7 Kediri Prima Jaya Luar Biasa.

Adik Kelas
Namanya adalah Nanda Mei Sholihah. Ketepatan aku adalah pengurus OSIS di SMA. Waktu itu setahun yang lalu, aku kelas XI dan angkatannya di-MOSi oleh angkatanku. Usut punya usut aku sendiri tidak pernah mengenal anak hebat ini jika tidak karena kecacatan fisiknya yang membuatnya menonjol di antara gerombolan teman sebaya. Padahal dia seharusnya menjadi adik asuhku saat masih MOS berlangsung. Saat itu teman-temannya hanya bilang padaku kalau dia tidak bisa ikutan MOS karena harus TC (Training Center) untuk persiapan lomba. Sudah, sependek itu saja alasannya dan aku tidak penasaran apapun.

Sebuah kabar mengejutkan sekaligus menggembirakan dibawanya sebagai oleh-oleh. Teman angkatannya sudah mulai masuk KBM semester selama sebulan, eh dia baru datang. Anak perempuan ini memang jarang masuk sekolah. Tapi bukan berarti dia malas sekolah atau sekolah hanya sebagai pantas-pantasan saja. Dia absen disebabkan oleh kewajibannya sebagai seorang atlet memang menuntut latihan fokus dan rutin. Jadi tugas-tugasnya dikerjakan dari sumber buku yang dibekalkan Bapak Sony Tataq (Boss besarnya smaptakdr.sch.id) ketika latihan di Solo. Dari kota orang itu juga dia mengirimkan tugas via blog guru -dampak modernisasi banget ini-. Lagi pula Nanda membawa pulang medali dari ASEAN Youth Para Games. Dia sudah beberapa kali menyabet juara tingkat internasional dan mempersembahkannya buat merah putih kita. Wah, kita saja yang normal belum tentu bisa ngasih piala buat sekolah. Jangankan sekolah, di kelas saja malah jadi buronan para guru akibat kebandelan tanpa isi.

Kenapa aku bilang kebandelan tanpa isi ? Karena di luar sana ada banyak tokoh jagoan yang bandelnya minta ampun. Cara hidup, menyikapi masalah dan seterusnya memang unik. Tapi mereka bisa memberikan pencapaian dan prestasi yang bergengsi. Pencapaian yang menurut kebanyakan orang bernilai fantastis.

Ditolak Sekolah
Di dalam blog pribadinya, nandamei99.blogspot.co.id, cewek cantik berambut panjang itu menuliskan memoar seputar kehidupannya. Hampir sama seperti aku sendiri yang nggak pernah ngrasain  kehidupan TK dan divonis nggak bakal naik kelas di SD. Nanda Mei juga pernah ditolak mentah-mentah oleh beberapa TK di sekitar rumahnya, lingkungan Dandangan Kota Kediri pada waktu proses pendaftaran. Bayangkan saja bagaimana teririsnya hati seorang ibu yang berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi buah hatinya nyatanya mendapat penolakan. Yang paling bikin nyesek ternyata bukan lagi ditolak jalan sama doi. Kisah Nanda Mei ditolak akibat tangannya tidak punya sebelah lengan ini membuatnya jadi anak kecil pendiam.

Ibu Nanda pulang ke rumah dengan sesenggukan. Beliau menceritakan penolakan-penolakan yang diberikan oleh beberapa TK ke kakek Nanda Mei. Kecenya, kakek Nanda bukannya sedih eh malah marah-marah karena merasa cucunya nggak kekurangan apapun. Sehat wal afiat lahir batin. Mungkin pikiran si ibu saat itu, kalau di jenjang pra sekolah formal wajib 12 tahun saja sudah direject, malah disarankan masuk ke SLB, lalu gimana sama jenjang lanjutannya ?. Padahal bukankah pendidikan milik semua orang ? Lagian siapa juga yang mau dilahirin cacat. Cuma ya kita nggak bisa maksa Tuhan nyiptain tubuh kita sempurna. Kita ini hamba. Hamba tugasnya menghamba, bukan mengeluh.


Lebih Dari Orang Normal
Nah, cerita lanjutan dari jagoan lari spesialis 100 – 400 meter asal Kediri ini nggak kalah sama para pelari dan motivator difabel dunia yang biasanya dijadiin bahan motivasi saat menjelang ujian sekolah. Menurutku, Nanda Mei adalah gadis cantik sekaligus tangguh. Beberapa orang di sekolahku melihat sendiri bagaimana kelihaiannya mengendari motor. Padahal nggak semua orang normal berani naik motor berkecepatan tinggi. Lhah ini yang difabel aja nyatanya bisa kok.

Pencapaian terbesarnya sampai saat ini adalah mengantongi tiga medali emas di ajang ASEAN Para Games 2015 yang digelar di negeri Singa. Sebelumnya ia juga pernah tampil memukau di ASEAN Youth Para Games 2013 Malaysia dan membawa pulang medali emas pula. Yang terbaru adalah medali emas dari event Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 di Bandung, Indonesia. Tentunya prestasi selevel itu tidak dicapai secara tiba-tiba. Ada latihan keras dan intens yang terus dijalani oleh Mei. Dia juga memiliki pendirian teguh yang makin mengokohkan prinsip dalam hidupnya.

Jangan tanya dulu bagaimana caranya menyikapi hinaan orang yang nyinyir melihat tangannya tanpa lengan. Dulu sekali sebelum menjadi seorang atlet, Nanda memang pernah minder. Wajar saja jika seorang anak juga ingin mendapat perlakuan sama dari lingkungannya. Namun Tuhan memang romantis. Seorang pelatih atlet difabel www.npcindonesia.org bernama Karmani mengamati perilaku Nanda dari hari ke hari. Dia pun mengatakan ucapan sederhana namun sangat menancap di sanubari seorang anak yang merindukan sebuah penghargaan dari lingkungan agar terus dianggap keberadaannya. Karmani menanyai ‘Nanda, apa kamu nggak pengen naik pesawat gratis terus jalan-jalan ke luar negeri ?’ Kira-kira bujukan itu menggoyahkan keminderan si Nanda kecil. Gadis manis itu pun segera bangkit dari kondisi terpuruknya. Waktu itu sih Nanda memulai latihan sebagai calon atlet di lapangan Desa Bawang, Kediri atas ajakan Pak Karmani.

Rahasia Utama 
Dia cuma pengen berlari dan terus berlari. Nah, ini nilai yang pengen aku bagiin ke pembaca whiztale. Dek Nanda yang notabenenya pernah sangat terpuruk akibat takdir dari lahir saja akhirnya bisa disegani banyak orang di dunia internasional. Sekarang ini dia sudah tercatat sebagai atlet nasional Indonesia, lhoh. Kadang-kadang kita emang nggak butuh omongan orang. Sewaktu nggak butuh itu. pilih-pilih dong pas ngedengerin omongan orang lain. Bisa jadi mereka bermaksud nasehati tapi ucapannya malah menyakiti atau menyinggung kondisi kita. Kalau sudah begitu coba keep calm dulu. Tarik nafas, keluarkan, dan tutup telinga. Bersikaplah seolah kamu emang nggak punya kekurangan apapun yang harus menjadi catatan khusus dalam proses meraih impian.


Sebuah cerita klasik menuturkan kisah dua ekor Katak yang berlomba meraih puncak menara. Kedua katak ini adalah yang tersisa dari ribuan katak yang mencoba naik menara. Di tengah jalan, si Katak pertama melihat menara dan mempertimbangkan kecepatan serta omongan Katak-katak di bawah menara yang lebih dulu jatuh. Katak A ini memperhatikan betul betapa banyak Katak yang jatuh sebelum sampai. Sementara itu, yang kedua malah terus meloncat naik, naik dan naik sampai akhirnya ia mencapai puncak. Ketika dikorek, ternyata Katak kedua ini tuli. Makanya dia tidak dengar apapun ucapan rakyat Katak yang berjatuhan.

Cerita di atas bisa dong diambil sendiri maksudnya. Kadang kita memang perlu menulikan telinga biar semangat diri terus membara. Simplenya ‘ngapain sih kamu mikirin omongan orang lain ? Orang mereka aja ngomongnya nggak mikir kok.’ Dek Nanda Mei ini mewakili kisah Katak di atas.

Oke, sekarang aku tanya deh. Kamu udah punya penyemangat kan dalam hidup ?. Satu sumber apa banyak ? Fokus aja ke orang-orang yang jadi penyemangat hidup kamu. Setiap kamu latihan atau belajar berproses menuju tujuan, ingat terus gimana kira-kira wajah mereka melihat kamu sedih dan meratapi nasib dan bandingkan dengan keceriaan bahkan air mata serta peluan mereka saat lihat kamu sukses sama target-target yang sudah kamu buat. Mereka pasti bangga. Percayalah, separah apapun orang lain mengucilkan kamu, mengerdilkan semangatmu, bilang kamu nggak bisa. Ya tanggap aja deh. Kasih senyum terus catat baik-baik omongan mereka yang bikin hati kamu panas. Bikin target dan strategi mencapainya. Pastikan proses itu nggak ngerugiin orang lain ya. Kalau udah, realisasikan. Itu baru yang namanya dendam damai. So, masih yakin malas-malasan bisa bikin sukses asal beruntung ?. Singkirin aja deh malasmu mulai sekarang daripada nyeselnya gak bisa dibayar.
            
Read More