Showing posts with label lifestyle. Show all posts
Showing posts with label lifestyle. Show all posts

Saturday, February 3, 2018

3 Pertimbangan Penting Saat Pikiran Suicide Muncul

Gambar 1. Depresi

Maaf ya lama sekali nggak pos. Padahal udah lama komitmen ngeblog. Entah kenapa setiap ketemu temen yang bisa diajak ngobrol, nyambung diajak berkicau soal politik-penyakit-ekonomi-bisnis sampai gosip perceraian dan pelabrakan dunia selebriti rasanya males banget nulis. Ya, mungkin karena aku sudah menemukan pelampiasan dari rasa dongkol maupu  kebingunganku. Oke, tapi aku gaboleh kaya gini terus. Namanya belajar ngeblog ya harusnya aku menghabiskan waktuku di depan laptop. Nulis apapun asalkan membuat blogku tetap hidup. Duh, maafin ya blog-ku, kamu jadi sakit-sakitan gini gak keurus kaya yang punya.
Sebenarnya hari ini aku mau nulis tentang isu anget banget yang baru kemarin memanas. Seputar pemuda pemberani yang ‘nekad’ mengacungkan buku lagu UI berwarna kuning setelah meniup peluit di depan Bapak Presiden kita yang terhormat, Ir. H. Joko Widodo. Wiuh, gila banget gak sih tuh aksinya. Tanpa komando dan aba-aba, Pasukan Pengaman Presiden yang tubuhnya pada bongsor itu langsung nangkepin dia.
Eits, tapi kayanya aku mau nulis opini soal abang Zaadit yang aksinya gak selucu Bang Radit pas kena kamera di sini deh. Aku mau coba menulis buat pertama kalinya di idntimes.com. You should know di sana kalo nulis dapet upah eheheh. Bukan karena sini berkarya cuma pas butuh duit aja lo ya. Ini lebih karena desakan penasaran. Apakah tulisanku yang potensial dibaca lebih banyak orang akan diberi tanggapan kontroversial atau hanya satu warna suara saja.
Sebagai gantinya, sekarang aku mau cerita tentang betapa pentingnya hidup sehat Whizzer. Beberapa hari yang lalu aku pergi ke konselor dan menceritakan tentang semua perasaan yang aku alami belakangan ini. Konselor cantik yang mata dan senyum ramahnya tak bisa ku lupakan itu bertanya ‘kamu mending mana. Sehat fisik atau jiwa.’ Tanpa pikir panjang aku sih milihnya jiwa ya. Karena aku sendiri ngrasain akibat pikiran yang tidak sehat, jiwa dan fisikku melemah terus menerus sampai akhirnya aku harus datang ke tenaga profesional. Sekarang aku punya alasan kuat kenapa aku harus semangat menjalani hidup ini.

  • Merugikan Orang Lain

Aku tau banget orang kalo udah putus asa, bingung, sedih pikiran atau niatan suicide pasti sering terlintas. Para guru dan ustadz bilang bertumpuk kata mutiara dari sumber A, B, C juga gak ngefek banyak. Mainstream. Ya aku tau karena sudah sering banget ngalamin.
Itu adalah titik di mana aku lebih suka menghabiskan waktu menonton video band-band metal progressive dan soft rock dengan jalan cerita di video clip yang menyakitkan seperti cerita hidupku daripada mendengarkan ceramah atau nasehat dari orang-orang yang dianggap ‘baik dan suci.’
Maksudku bukan aku menganggap mereka tidak memiliki peran penting dalam kehidupan orang-orang yang stress berat. Kami ini ada di titik membutuhkan rangkulan dan dukungan. Kalau tidak sanggup memberi maka jangan mengadili atau melabeli kami. Sungguh, itu bukan tindakan bijak sekalipun kalian menganggapnya perbuatan mulia untuk menolong kami.
Gambar 2. Pelarian Depresi pada Obat-obatan
Alasanku harus tetap semangat hidup sehat adalah jika aku terus-terusan terpuruk dalam perasaan bersalah atau negative feeling lainnya maka aku ini jahat banget sebenernya. Aku merugikan orang lain. Siapa yang bisa menjamin besok temanku mengalami masalah hidup yang sangat berat, lalu dia pas barusan melihat aku serta sikapku pada kehidupan. Dia terinspirasi. ‘Ih kok kayaknya enak ya ijin kuliah melulu alasan sakit,’ ‘Kok kayaknya lebih baik aku nyerah aja sama hidup ya.’
Ketika aku depresi untuk pertama kalinya, yaitu sewaktu aku masih duduk di bangku SMA aku mengganti status Blackberry Messenger –maklum, dulu belum ada IG sama WA- menjadi “depressed.” Aku justru makin bersalah ketika ada 2 orang temanku kemudian mengikutiku jejakku. Mereka sama-sama sedang depresi. Meskipun depresinya mereka sama sekali tidak dipicu olehku, tapi membuat mereka menikmati rasa downnya adalah suatu kesalahan bagiku. Jadi ku putuskan mulai sekarang aku tidak boleh merugikan orang lain lagi. 
  •  Mengorbankan Orangtua

Aku memang bukan anak yang baik. Cara bicaraku pada orangtua tidak sopan, aku tidak tanggap atas semua perintah mereka. Bahkan ku akui aku sering tidak menyukai mereka. Namun suicide bukanlah tindakan terbaik sebagai solusi masalah. Prinsip dan alasan utama bertahanku adalah tidak merugikan orang lain. Sementara setelah menyerah pada keadaan, aku akan membuat kedua orangtua ku malu setengah mati.
Di dunia para tetangga pasti diam-diam mengolok-olok ibu ‘Eh tau nggak sih bu, Bu X ini lo anaknya bunuh diri. Katanya sih gara-gara kebutuhan sekolahnya nggak pernah dikasih sama orangtuanya. Yaampun orangtua macam apa sih dia itu. Udah anaknya mati bunuh diri yang satunya kuliah nggak lulus-lulus. Makanya bu kalau belum bisa didik anak gak usah bikin anak.’
Ya, aku udah mikir sampe kaya gitu. Betapa ingin ku sobek saja mulut mereka yang omongannya ngaco begitu. Ini sih bukan halusinasi atau ketakutanku aja ya. Kalo kalian udah pernah hidup deket masyarakat pasti tau dong daerah yang ibu-ibunya terdidik membicarakan ide ketika ngumpul dengan daerah yang para wanitanya menggosipin tetangga bahkan kerabat dekatnya sendiri secara sadis lebih banyak mana populasinya. Aku kasihan sama orangtuaku kalo dijadiin korban.
Ada sebuah hadits dan Firman Allah SWT yang melarang kebiasaan bergunjing alias gossip. Kebiasaan ini diibaratkan memakan bangkai saudaranya sendiri. Jijik sih, tapi nyatanya gossip renyah sampai dijadiin bisnis. Gak suka ah. Apalagi kalo orangtua ku yang diomongin gak bisa didik anak. Padahal suicide emang udah jadi pilihanku, sekeras apapun orangtuaku memberi arahan. Mereka sok tau. Kejemmm banget sok taunya. 

  •  Lebih Banyak Orang Kecewa

Alasanku ingin meninggalkan bumi adalah merasa sudah mengecewakan banyak orang, tidak berguna, ngrepotin, dan semua hal-hal buruk. Sekarang entah apakah ini akibat dari beranjak dewasa atau Tuhan yang mengirimkan ilhamNya.
Aku pikir ketika aku tiada akibat bunuh diri, maka akan semakin banyak orang yang kecewa padaku. Para dosen yang senang berdiskusi denganku, teman yang suka hang-out meski cuma  beli cilok di seberang gedung perkuliahan, kakak tingkat yang berharap aku bisa dikader, kakak organisasi yang berharap organisasi itu bisa berkembang berkat hadirnya generasi baru, penjual nasi langgananku yang omsetnya akan menurun, sampai para haters yang akan merasa bersalah dan kesepian karena bingung mau ngebully atau nyetalk abis siapa lagi.
Gambar 3. Pikiran Mengakhiri Hidup Sendiri pada Orang Depresi
Pada akhirnya aku akan mengecewakan lebih banyak orang jika menyerah begitu saja. Jadi aku harus bertahan. Aku harus bertahan meskipun sakit. Meskipun keras dan tak mudah. Aku tidak perlu bercerita detail masalahnya ku rasa. Ini blog, bukan diary. Oke. Yang terpenting orang-orang yang sedang terpikirkan untuk suicide bisa mempertimbangkan tiga hal ini.

Aku tau, memikirkan hukum agama di saat kondisimu sangat buruk malah akan membuatmu tertekan. Maka bebaskan. Bebaskan sebebas-bebasnya. Kamu hidup di dunia tidak boleh egois. Kamu boleh suicide, tapi pastikan juga tidak ada orang lain yang akan bersedih berhari-hari sampai nafsu makannya turun lalu jatuh sakit akibat bersedih atau merasa bersalah.

Silahkan suicide asal kamu sendiri juga bisa menjamin tidak ada efek negatif lain yang kamu sebarkan ke orang lain dan kamu sendiri juga yang akan memastikan tidak akan ada orang yang dirugikan akibat terinspirasi kisahmu kemudian dia mengikuti langkahmu menjemput kematian yang sebenarnya belum tentu membahagiakan.
Read More

Wednesday, February 15, 2017

Parah Mana Buta Al Qur’an Dibanding Buta Matematika ?


credit image : www.merdeka.com
Pengetahuan memang ditujukan untuk mengubah mental dan karakter seseorang supaya sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Aku kemarin baru aja gabungan sama club pengajian yang menghadirkan seorang pemuda sholeh. Pemuda ini bernama Taqy Malik. Walaupun masih muda, dia seorang hafidz yang sudah bisa menirukan 40 suara imam besar di dunia. Jadi bayangin aja kalau sholat di belakangnya, nggak bakalan bosan mendengar suara merdunya yang bisa diganti kapan saja. Sama seperti ketika kamu menikmati sebuah konser musik. Ngomong-ngomong aku bakalan certain sedikit profilnya di artikel berbeda ya. Silahkan besok cek ke sub tema tokoh jagoan. 

Yang ingin aku fokuskan kali ini sesuai dengan judul. Well, sebagai seorang pelajar di sekolah menengah umum biasa, aku merasa ada banyak banget pelajaran yang mesti dipelajari. Masing-masing menuntut kemampuanku dan beberapa di antaranya harus aku kuasai tanpa pernah bertanya dulu sukakah aku padanya. Aku ambil contoh pelajaran paling banyak dibenci di sekolahku. Namanya matematika. Pelajaran ini mengasah logika dari otak setiap orang. Katanya sih sebagai dasar kehidupan. Makanya matematika tidak pernah dilenyapkan sejak tingkat Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Menengah Atas.

Jawaban Guru Matematika
Pernah suatu ketika temanku yang sering mengantuk tiba-tiba pada saat pelajaran matematika bertanya pada ibu guru pengajar. ‘Bu, kalau di kehidupan sehari-hari itu contoh penerapan ilmu matematika apa ya ? Kok kita sampai harus belajar matematika 12 tahun.’ 

Ibu guru tersebut diam sebentar. ‘Buat permainan.’ Aku yang mendengar jawaban menarik itu langsung menoleh ke arah mereka. ‘Main apa, Bu ?’ 

‘Main angka.’ Jawab beliau. Yah, langsung kutundukkan wajahku ke buku matematika lagi. 

‘Saya tidak suka main angka, Bu.’ Jawabku lemas. 

‘Itu lebih baik daripada main hati sama cinta. Kalian belum waktunya.’

Kupikir-pikir nyeleneh juga si ibu guru matematikaku yang notabene sudah berumur itu. Kembali aku mengingat rasanya bosan berada di bangku sekolah. Walaupun aku duduk di jurusan IPS yang anaknya terkenal cablak, tapi kami tidak pernah cablak menyampaikan isi hati dan uneg-uneg dunia pendidikan kepada para tenaga pengajar. Entah karena memang merasa sekolah sebagai tradisi atau benar-benar sadar ini bagian dari proses pendidikan. Yah, anak SMA disuruh berpikir hal semacam itu, yang ada kelas malah sepi. Krik,…. Krik…

Kisah Ketua OSIS 
Aku kembali teringat pada suatu kejadian di masa SMP. Sewaktu itu aku sekolah di SMP umum, bukan yang berbasis Islam. Wajar saja jika ada banyak siswa Islam yang duduk sebagai mayoritas tapi tidak banyak yang lancar membaca kitab suci, Al Qur’an. Ketepatan aku sekelas dengan ketua OSIS di SMP ku pada periode tahun kejadian itu. Suatu ketika diadakan tes mengaji pada pelajaran agama Islam. 

Satu per satu dari anggota kelas diberi jatah membaca satu ayat dan teman lainnya mendengarkan. Begitulah sistematikanya. Ketika pas jatuh giliran si ketua OSIS ku itu, kelas hening cukup lama. Dia gagal membaca sekalimat pun dalam Al Qur’an. Aku sendiri heran mengapa dia sangat sulit mempelajari Al Qur’an padahal tidak ada riwayat keluarganya yang berasal dari agama lain. Namun anak ini memiliki skill public speaking yang mantap. Jiwa sosialnya juga terasah karena pandai berkomunikasi dengan orang lain. Dia memiliki banyak penggemar di sekolah maupun luar sekolah karena cantik, baik, ramah dan tentunya cukup pintar bagi ukuran siswa organisasi. Sayangnya, dia belum bisa membaca Al Qur’an hingga usia sekitar 15 tahun masa hidupnya di dunia. 

Tentu saja guru agama ku tadi trenyuh melihat siswi kebanggan sekolah buta huruf Al Qur’an. Padahal sudah ada ekstra BTA (Baca Tulis Al Qur’an) di Musholla. Namun entah mengapa dia hanya menjalin hubungan baik dengan para pengurusnya tanpa pernah mengikuti. Mungkin karena itu termasuk kewajibannya sebagai ketua OSIS. 
credit image : www.lomba.co

‘Kalau nggak bisa matematika sedikit saja langsung ikut les, disuruh ibu lagi yang siap biaya. Giliran nggak bisa baca Al Qur’an sama sekali malah nggak peduli itu ibunya.’ Kalimat sindiran itu benar-benar masih terngiang di telingaku. Oke, aku mau ngasih opini tentang dua ingatan masa lalu di atas. 

Ini sesuai fakta yang pernah aku alami dan teman-teman yang melaksanakan sholat malam dilanjut membaca Al Qur’an. Ketika kamu mendahulukan Tuhan, Tuhan juga bakalan mendahulukan kepentinganmu. Itu sih kata kakak kelas ketika berbagi tipsnya menjadi mahasiswa UI tingkat akhir. Hampir sama dengan yang disampaikan Taqy Malik pada waktu aku bertanya keluhan banyak hafalan pelajaran yang lebih menuntut daripada hafalan Qur’an. 

Beliau bercerita tentang temannya yang juga sekolah di sekolah umum. Pada saat teman-teman lainnya membolak-balik buku karena akan ujian akhir, dia malah asyik tadarus Al Qur’an sambil hafalan. Salah besar kalau kita merasa pelajaran apapun itu lebih penting daripada Allah. Nah, temannya Taqy Malik ini baru buka buku satu jam sebelum ujian dimulai. Itu pun cuma sempat baca sepintas. Subhanallah, ajaibnya apa yang dia barusan baca itu keluar semua di soal ujian. Sudah pasti nilai dia jauh lebih tinggi dibandingkan teman-temannya yang katanya belajar biar bisa menjawab soal ujian. 

Dear Emak
Buat para Emak-emak nih, nggak semua anak bisa multitalent. Akan lebih asyik kalau Emak punya anak yang ahli di satu bisa namun juga mengenal bidang-bidang lain secukupnya. Jadi ahli di suatu bidang itu nggak gampang. Akan ada banyak latihan yang dalam prosesnya harus mengeluarkan airmata, air keringat dan menghabiskan emosi anak-anak Emak. Dukung saja ilmu-ilmu yang jadi passion anak Emak. Yang penting anak Emak bisa ilmu dasar dalam kehidupan, agama. Ajari bacaan Qur’an sejak sekarang. Kalau Emak merasa belum bisa melakukan itu cukup anggarkan saja dana les dan serahkan urusannya ke Pondok Pesantren atau lembaga bimbingan BTA. 

Ada berapa banyak sarjana yang menjadi pengangguran bukan karena sewaktu dia kuliah terlalu nakal, pembuat onar atau kampusnya belum terakreditasi. Ini bukan saja tentang beruntung atau tidak, tapi juga skill dalam kehidupan. Bagaimana tata karma berhubungan dengan Tuhan dan sesama manusia juga diperhitungkan. 

Jika belajar ilmu agama, kedua skill di atas akan otomatis ikut dikuasai. Buktinya, banyak lembaga pendidikan tinggi terkemuka yang membuka jalur prestasi hafidz qur’an dan mereka langsung bisa memilih ingin masuk di jurusan apa saja. Misalkan UNS yang terang-terang siap menampung para hafidz qur’an. Ada banyak jenis beasiswa juga yang disediakan bagi mereka penghafal qur’an. Misalkan beasiswa dari Kemennag. Kabarnya kampus terkemuka di Indonesia seperti UI, UGM, UB, UIN Malang juga menerima mereka. Bayangkan, tanpa harus susah bergelut dengan buku-buku tebal persiapan SBMPTN Anda bisa langsung berkuliah di jurusan kedokteran yang sudah jadi idaman sejak Anda dilahirkan. Wuih, oranguta pasti lega sambil senyum tipis-tipis.

Buat Kamu
Ketika kamu mendahulukan Tuhan, yakini dalam hatimu. Hasbunallah wa Nikmal wakiil nikmal maulaa wanni’mannatsiir. Cukuplah Allah saja yang akan menolong dan memenuhi semua kebutuhan kamu. Kalau lagi berdo’a gak usah ragu-ragu. Allah juga udah bilang kok. ‘Uduni Istajiib Lakuum.’ Barangsiapa yang meminta pasti akan aku kabulkan. Jadi jangan tanggung-tanggung kalau meminta. Minta aja yang besar sekalian, meskipun kelihatannya mustahil. 

Pilihan pertama kamu jago matematika. Do’a sama Allah minta it uterus belajar yang keras. Pilihan kedua minta jadi professor matematika sekaligus hafal dan paham Al Qur’an. Kayaknya nggak mungkin banget yak arena di zaman ini nggak ada orang seperti itu. Lhoh, jangan salah. Aljabar yang dipelajari di matematika itu penemunya bernama Al Jabr, matematikawan Muslim. Makanya mulai sekarang mindsetnya dirubah. 

Kalau kamu nggak percaya sama pemaparan aku di artikel ini, silahkan bedah perpustakaan dan om google. Korek aja info keajaiban dan manfaat belajar Al Qur’an. Lebih enak lagi kalau punya kenalan yang langsung bisa diwawancarai. Sampai sekarang pun aku belum pernah menemui hafidz qur’an yang jatuh miskin, jadi pengangguran dan sampah masyarakat. Na’udzubillah. Yang ada malah mereka yang terlalu berfokus pada dunia seperti missal terlalu mengejar ranking di sekolah. Banyak lhoh kisah para jagoan sekolah, menang lomba akademik ini itu tapi ujung-ujungnya kalah saing di dunia kerja. Ada yang jadi karyawan swasta dengan gaji di bawah standar UMR sampai pembantu rumah tangga. 

Coba ingat-ingat lagi deh, pentingan mana nyawa orangtuamu dengan pelajaran sekolah ? Kalau masih penting yang pertama, masa iya mau mengakhirkan pencipta nyawanya. Padahal Al Qur’an itu sumber ilmu apapun. Astronomi, sejarah bahkan teori atom ada semuanya di dalamnya. Sayang banget kan kalau kita menyandarkan dan mengejar hal menipu. Percayalah, jika kita sudah memprioritaskan akhirat, dunia itu akan mengikuti otomatis. Masih butuh kisah-kisah realnya ? Bisa request ya, nanti aku cariin sosok yang pengalamannya bisa dijadikan pembelajaran. See you on top. Makasih sudah mampir dan membaca sampai habis. Jangan lupa tadarus Al Qur’annya, ya.
Read More

Sunday, February 5, 2017

Cegah Orang Ketiga di Hubunganmu dengan Cara Berikut




sumber gambar : www.merdeka.com

Menjadi orang ketiga dalam hubungan tentunya bukanlah suatu cita-cita atau harapan dari wanita dan pria manapun. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa kadang-kadang ada saja kesempatan dan keadaan yang memaksa kita jatuh cinta pada orang lain selain pasangan sah. Di dalam hubungan pacaran saja PHO (Pengganggu Hubungan Orang) sudah dianggap sebagai parasit. Terlebih bila PHO ini muncul di antara ikatan suci pernikahan. Menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain cenderung lebih sulit diberantas daripada yang hubungannya masih main-main. Kata-kata pengganggu hubungan orang tidak akan cukup untuk membuat malu pihak yang berselingkuh. Bahkan hingga rumah tangga hancur, biasanya PHO tetap tidak merasa berdosa. Semua ini karena dia tetap mendapatkan apa yang dia inginkan. Entah harta salah satu pihak di dalam rumah tangga atau perhatian yang tidak didapatkannya dari pasangan sah sang PHO.

Namun kita tidak dapat begitu saja langsung menyalahkan pasangan sendiri dengan mengatakannya tukang selingkuh. Coba kroscek dulu ke diri sendiri. Apakah selama ini perhatian yang kita berikan sudah lebih dari cukup. Apakah sikap-sikap kita sehari-hari sering membuatnya jengkel atau bagaimana lingkungan kerja dan pergaulan pasangan kamu seharusnya sudah kamu kuasai. Jika kamu merasa semuanya baik-baik saja tapi nyatanya tetap saja ada PHO yang datang tak diundang, tentunya kamu butuh cara menyingkirkan orang ketiga agar pernikahan sakralmu tidak berujung sia-sia.

1.   Jangan Tergantung pada Pihak Ketiga

Penyebab paling klasik ada di cerita anak-anak muda. Biasanya ada dua orang bersahabat yang persahabatannya sudah sangat erat. Si A memiliki kekasih yang sedang ngambek. Lalu si A ini meminta bantuan dan nasehat dari sahabatnya, B. B kemudian masuk ke kehidupan pribadi mereka berdua dengan niat membantu. Tanpa diniatkan sebelumnya, ujung-ujungnya kekasih si A ini justru lebih nyaman dengan B dan merasa bosan pada A. Kalau sudah begini cara menghadapi PHO model bagaimana yang harus diterapkan ? Toh, A sendirilah yang meminta sahabatnya masuk ke dalam kehidupan pribadinya.

Sebutuh apapun kamu pada nasehat seorang teman, cukup mintalah bantuan padanya jika memang sangat mendesak. Jangan jadi seorang anak kecil yang setiap masalahnya harus diselesaikan orang lain. Kita cukup meminta nasehat dan saran saja. Selanjutnya tetap yang take action kita sendiri langsung. Orang yang semula dengan kamu bisa jadi musuhmu suatu hari nanti. Tidak ada yang perlu disalahkan bila yang terjadi adalah cerita semacam itu. Yang perlu dicari hanyalah solusi, bukan malah saling tuding dan menganggap tikungan tajam dimana-mana. Jadi mulai sekarang biasakan diri bersikap dewasa, mandiri serta waspada.

2.   Membatasi Diri

Masalah di dalam rumah tangga atau hubungan percintaan lain pasti akan selalu ada. Jangan meminta pasanganmu agar terus mengerti dan menghindari konflik karena itu sesuatu yang mustahil dilakukan. Kamu hanya perlu tahu tanda-tanda kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga.

Pada saat kamu dan si dia sedang dalam masalah kemudian ditambah beban pekerjaan semakin menumpuk, biasanya ada orang lain yang datang menawarkan bantuan maupun sekedar hiburan. Kamu boleh saja berjalan-jalan dengan siapapun sebatas melepas penat. Namun sebisa mungkin jangan bersama lawan jenis.

Ketika kamu membiarkan lawan jenis yang bukan pasanganmu terlalu sering menghiburmu dan dia berhasil, kamu pasti akan membandingkannya dengan pasanganmu. Lama kelamaan kamu bisa saja berandai-andai. Andaikan saja dia ini kekasihku, pasti aku lebih bahagia daripada saat ini. Pikiran-pikiran semacam ini seharusnya tidak dipelihara terus menerus. Namun itu adalah hal yang wajar bagi seseorang yang sedang dirundung masalah bertumpuk-tumpuk dan sedang memerlukan dukungan penuh dari seseorang tercinta.

Lebih baik batasi mulai sekarang seberapa jauh kamu membiarkan orang lain ikut mengatasi permasalahanmu. Mencegah lebih baik daripada mengatasi masalah orang ketiga. 

sumber gambar : www.beritakok.com

 

3.   Beri Waktu Dia Ikut

Jika kamu adalah seorang yang sibuk, kamu perlu memikirkan bagaimana perasaan pasangan ketika harus terlalu sering menahan rindu. Bagaimanapun juga, terikat atau belum seorang manusia tetap membutuhkan bukti dari kasih sayang pasangannya, bukan sekedar kata-kata.

Sesekali libatkan pasanganmu langsung saat kamu berkegiatan. Buat dia merasa bangga dan menjalin kepercayaan semakin kuat. Beritahukan pada teman-temanmu bahwa ada seseorang di rumah yang selama ini sudah mendukungmu sampai sukses. Dengan begitu kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga dapat tercegah sedikit karena biasanya para wanita atau lelaki butuh akan mendekati mereka yang memiliki materi namun miskin belaian.

4.   Buktikan Kepercayaan

Kamu bilang kamu percaya pada pasangan, tapi kamu selalu bertanya penuh nada curiga ketika dia di luar rumah. Janganlah terlalu sering bersikap over protektif, apalagi dalam keadaan normal. Kebiasaan terlalu mengekang, cuek padanya demi mendapat perhatian lebih tidak akan menjamin anti selingkuh.

Justru pasanganmu akan merasa bosan dan tidak dihargai kepercayaannya. Dengan itu, dia merasa wajar bila menerima kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga. Teruslah bersabar menunjukkan rasa peduli dan menyemangati kesibukannya. Dia pasti akan berpikir berkali-kali untuk melampiaskan rasa sepi atau bosannya saat kelelahan dalam pekerjaan karena ada kamu yang terus setia dan peduli.

Read More

Wednesday, December 21, 2016

4 Gejala Stress Ringan Yang Jarang Disadari


sumber gambar : www.genuinehealth.com 

Gejala stress berat sering disalah sebutkan sebagai sebuah kegilaan. Itu sih hanya kata orang awam. Padahal gejala stres sebenarnya tidak selalu mengarah pada kegilaan atau sakit jiwa tingkat tinggi. Terutama gejala stress pada wanita yang memang kebanyakan terjadi secara periodik. Ciri orang stres atau gila jelas saja berbeda. Jangan mudah mengadili seseorang yang kelihatan tak normal sebagai orang gila. Bisa saja sahabat sendirilah yang sebenarnya stress, hanya saja tidak disadari. Karakteristik oroang stres memang sangat samar, hampir sama dengan orang normal yang iseng atau kesepian. Temannya mungkin melihat dia baik-baik saja secara fisik. Dia masih bisa tersenyum, diajak bicara nyambung dan IQ nya sama sekali tidak menurun. Tapi jauh di dalam hati dan pikirannya ada sesuatu yang mengganjal. Ini sih stress ringan. Whiztale yakin, sahabat seringkali tak menyadari gejalanya.

Ciri Stress Ringan
Setiap manusia hidup pasti aktif melakukan suatu pekerjaan. Baik di dalam maupun di luar rumah. Apakah Sahabat masih ingat dengan suatu slogan ‘kalau nggak punya masalah berarti nggak hidup?’ Kata-kata tersebut masih menjadi penyemangat buat Whiztale dalam menikmati setiap masalah yang mendera. Kadang-kadang Whiztale gagal menyembunyikan diri dari publik ketika dalam kondisi sedih dan ini terjadi karena gejala stress akut. Beberapa orang mungkin bersimpati kepada Whiztale. Mereka bertanya mengapa dan apa yang terjadi. Tetapi Whiztale tidak bisa menjawabnya. Beberapa waktu setelahnya barulah sadar kalau sebenarnya ini sudah masuk kondisi stress. Pernahkah Sahabat langsung menyadari gejala stres bisa dilihat dari mulut? Ciri orang stres dan depresi itu serupa tapi tak sama.

Ciri-ciri stress ringan memang tidak terlalu perlu dirisaukan. Stress sendiri terbagi menjadi dua jenis yang mengikut pada siapa orang stressnya. Jenis stress positif dinamakan eustress. Stress ini selalu diluapkan dengan cara baik seperti semakin rajin belajar, rajin masuk kantor atau lebih rajin lagi latihan mengaji. Sementara stress yang kedua dikenal dengan distress. Stress ini sangat merugikan orang yang mengalami. Stress jenis kedua lebih banyak berujung pada tindakan destruktif (merusak), baik benda maupun orang di sekitar. Pernah nggak sih Sahabat menjumpai orang yang memetik daun tanpa sebab lalu menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil. Secara tidak sadar orang tersebut sedang menunjukkan kondisi emosinya yang distress.

Orang kadang terlalu berlebihan mengatakan dirinya stress karena tidak kunjung mendapatkan kekasih hati atau stress akibat hal remeh seperti dimarahi orangtua (Padahal emang anaknya yang salah). Seharusnya ketika stress kita menanganinya sesegera mungkin. Ada banyak penyakit jiwa maupun fisik yang menimpa seseorang akibat stress berkepanjangan. Mulai dari penyimpangan kepribadian sampai frustasi tingkat tinggi yang berujung pada kegilaan. Na’udzubillah. Inilah gejala distress dan depresi yang harus dikenali lebih dini.

  • 1.     Merasa Gagal

Rasanya kita telah berusaha sebaik mungkin. Segenap tenaga, pikiran, waktu dan emosi sudah habis terkuras demi tujuan yang pernah kita perjuangkan. Tujuan itu biasanya memiliki arti penting dalam kehidupan. Bisa karena karir di dunia kerja, prestasi akademik di sekolah, attitude di rumah, perkembangan bisnis dan lain-lain.

Kebanyakan gejala stress pada wanita diawali dari merasa gagal padahal telah berjuang sampai titik ujung. Wanita memang gampang membawa perasaan dalam keterlibatan masalah apapun. Tak heran jenis kelamin ini lebih mudah terbawa arus distress dibandingkan eustress.

  1. 2Merasa Useless

Useless, tidak lagi berguna. Seakan dilahirkan ke dunia ini karena kebetulan semata. Setiap hal yang dilakukan pasti tidak memiliki manfaat untuk orang lain. Sementara yang dilakukan orang lain selalu dihargai orang banyak dan dia tidak. Sebuah kalimat sederhana yang sudah bertebaran dimana-mana, tapi semoga Sabahat jadi ingat lagi. ‘Mungkin bagi dunia kamu bukan siapa-siapa. Tapi kamu adalah dunia bagi seseorang.’ Paham maksudnya kan? Kenapa Sahabat berpikir sempit dengan langsung menyimpulkan kalau dilahirkan sebagai anak tak berguna? Padahal di luar sana masih banyak yang nasibnya di bawah Sahabat. Nyatanya mereka bisa mengubah dunia, kok.

  1. 3.Menangis Tanpa Sebab

Saya yakin Sahabat pernah mengalami kondisi ini. Kadang-kadang ketika sepi sendiri air mata jatuh dan pikiran sedang tertuju pada satu permasalahan. Namun ketika ditanya kita tidak dapat menjelaskan duduk permasalahannya. Hati-hati, jika ini terjadi dalam jangka panjang artinya Sahabat sedang mengalami gejala stress. Di kasus berbeda malah tangisan ini berganti tawa dalam durasi lama tanpa ada lawakan atau penyebab riil.

  1. 4.     Sensitif


Orang yang sedang stress berbeda dari dirinya sehari-hari. Baik laki-laki maupun perempuan, banyak yang sensitif kalau sudah menghadapi suatu persoalan. Diajak bercanda sedikit dikira menyinggung dengan sengaja, diejek orang tak dikenal malah dibalas menghajar, diajak ngobrol ringan tidak bisa asik, dimintai bantuan dikira menyuruh, dikatai dikit sudah dianggap hinaan besar. Jika nomor 4 ini terjadi terus menerus pada diri Sahabat, coba tarik nafas dalam, keluarkan. Jika pikiran sudah merasa tenang, coba ingat-ingat lagi kejadian lalu yang menyangkut tingkat sensitifitas Sahabat. Segera lakukan evaluasi diri dan perbaikan supaya tidak berlanjut ke perpecahan hubungan sosial. Salam hidup sehat dan selamat berjuang menggapai mimpi.

Read More