Showing posts with label motivasi hidup. Show all posts
Showing posts with label motivasi hidup. Show all posts

Tuesday, February 27, 2018

Jangan Buru-buru Menganggapku Orang Baik


“Don’t Judge people by the cover”
Ungkapan di atas seharusnya tidak hanya diterapkan bagi mereka yang covernya berantakan, tidak tertata, kucel bahkan tanpa bentuk. Demi sebuah satu kata, keadilan. Harusnya tidak menilai orang dari sampulnya saja juga diterapkan ketika kita melihat seseorang yang terlihat berperilaku anggun dengan pakaian serba tertutup membalut seluruh badan.
Nilai-nilai kesopanan, kedalaman ilmu pengetahuan dan cap sebagai orang berkualitas banyak menjadi anggapan saat yang kita temui memang orang berpembawaan bagus dibarengi omongan berbobot. Dalam artikel kali ini aku hanya ingin menegaskan tidak semua orang baik itu benar. Kamu harus percaya benar itu mutlak, sedangkan baik relatif.
Artikel ini ditulis setelah 3 hari terakhir aku sendiri merasa ada keganjalan ketika orang-orang yang mengaku mengajak orang pada kebaikan atau dalam Islam menyeru kepada Allah alias berdakwah menjatuhkan penilaian bahkan sebelum kita sempat bercerita mengapa dan bagaimana kita bisa melakukan suatu hal buruk.
Sebelumnya, aku kutip dulu ayat Qur’an yang membuat kita semua sadar bahwa dakwah adalah sebuah tugas wajib seorang mukmin, bukan segelintir orang yang dianggap berilmu saja.  Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Ali ‘Imrân/3:104]”
Foto 1. Muslimah dalam Majelis Ilmu
Penyebabnya sederhana. Karena ingin beruntung makanya setiap orang berhak mengejar tiket ke surga masing-masing. Mau cuma hafal al fatihah doang terus diajarin ke anak-anak kecil di sekitar rumahnya atau sudah jadi hafidz qur’an dan mengajar di sebuah pesantren semua sama. Kan dalilnya sampaikanlah walau satu ayat saja to. 
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]

Masalahnya sekarang, aku merasa para pendakwah muda yang tengah digodok di dalam candradimuka kampus lupa bahwa seharusnya dakwah atau mengajak pada kebaikan ini orientasinya Allah SWT, bukan organisasinya apalagi dirinya sendiri.
Aku sendiri merasakan sebalnya ketika setiap kali diajak kebaikan pada ujungnya adalah promosi organisasi tertentu. Sebenarnya tidak ada yang salah, namun kemudian ijinkan aku mengutarakan isi hati. Bolehkah aku yang newbie dalam dunia dakwah ini menanyakan apakah benar seruan dakwah ini sudah menyeru Allah sebagaimana dua Firman-Nya tadi atau belum? Apalagi marah kalau yang diajak belum mau.
Sharing pengalaman pribadi saja. Aku sadar telah membuat banyak orang patah hati karena sering mengikuti kajian golongan tertentu bahkan hidup di tengah-tengah mereka tapi pada akhirnya memilih mengikuti organisasi rival mereka. Kecewa? Orang-orang itu mengakui kecewa berat, tapi aku tidak peduli. Life isn’t your slave, so just stay calm when life being horrific.
Ada alasan yang perlu kamu tahu mengapa aku tidak merasa bersalah mengumumkan pilihan ini kepada mereka. Ibarat kata, kamu ramah dan sudah sangat dekat dengan seorang teman lawan jenis tapi niat sebenarnya memang nyaman berkawan, berdiskusi, jalan bareng, sementara dianya merasa kamu serius. Suatu hari kamu mengumumkan ke semua orang kalau kamu akan menikah dan itu tidak dengan teman dekatmu tadi. Bayangkan saja bagaimana rasa kagetnya.
“Masak kamu nggak tertarik sih ditawarin surga?”
Hey guys, netizen yang setia menyimak ceritaku. Menurutmu untuk apa manusia tetap mengaku beragama meskipun sadar tidak menjalankan perintah agama sepenuhnya? Bukankah ampunan Tuhan dan akhirnya masuk surga? Apa yang salah dengan mengharapkan surga? Kalau kamu tidak setuju jawabanku yasudah, J Tapi inget ini dulu.
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya (yaitu surga) dan takut akan azab-Nya (yaitu neraka); Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al-Israa’ : 57)
Problem lagi, sebagai target dakwah sekarang aku ingin mengatakan sesuatu.
Teruntuk para pendakwah muda yang mengaku perindu surga:
Apabila seorang perempuan dengan aurat terbuka diam di dekat majelismu, hampirilah. Bisa jadi dia sebenarnya sangat ingin bertaubat tapi belum tahu darimana memulainya. Setiap manusia memiliki masa kelam sekaligus fase menyesal secara alami. Jangan dikira para penjahat di luar sana bengisnya sepanjang waktu. Mereka pasti punya waktu tertentu merasa tidak puas dengan hidupnya selama ini, tapi tetap menjaga image karena terlanjur dicap sebagai raja ini itu, terkenal sebagai anak begini begitu.
Apakah kamu beriman kepada 25 Nabi dan Rasul? Kalau iya lalu mengapa tiba-tiba lupa pada kisah Nabi Musa as yang ditegur langsung oleh Malaikat Jibril as setelah menolak, marah dan mengusir seorang mantan pezina yang datang kepada beliau.
Ketepatan aku ini seorang perempuan. Oke, perempuan memang ditakdirkan lahir dengan 9 perasaan dan 1 akal, jadi aku coba ada di posisi pezina ini. Aku datang ke seseorang yang dianggap manusia paling dekat pada Ilahi pada zamannya demi sebuah ampunan. Maunya sih Nabi Musa yang memberi rekomendasi artinya memintakan langsung pada Allah supaya berkenan mengampuni. Dateng baik-baik dengan isakan tangis karena takut dosanya tidak diampuni.
Nabi Musa bilang Allah itu Maha Pengampun, tapi sewaktu diceritakan dosanya berzina sekaligus membunuh anak hasil hubungan gelap malah dimarahi dan diusir. Bisa bayangkan betapa sulitnya di posisi si pezina? Setelah menyesali perbuatannya, ingin taubat nasuha tapi dianggap sangat hina. That’s really terrible convicted and only make her drowning deep. Padahal tadi bilangnya gapapa cerita aja, Allah Maha Pengampun kok segede apapun dosamu. Plis itu nyakitin banget guys bagi seorang perempuan. Udah sakit waktu ditinggalin pacar bejatnya, ngandung bayi yang bikin sakit badan terus ngebunuh biar gak dikucilkan.
Apakah Allah Maha Pengampun hanya slogan supaya manusia mau masuk agama ini? Tidak kan. Lantas mengapa membiarkan bahkan menolak, menganggap mereka yang belum berhijab pasti tidak berusaha memberi hidayah?
Hidayah kan dicari, dikejar, diusahakan. Maka bantulah saudarimu mendapatkannya, jangan malah hanya berpikir ‘ah, anak ini bacaannya aja masih novel receh, tontonannya drakor, sulit kayaknya kalo ngajak dia kajian.’ Belum tentu.
Aku punya banyak temen wanita yang masih belum istiqomah berhijab, pacaran, dll tapi bilang ‘kamu kapan kajian lel? Kabari ya, aku pengen ikut tapi malu. Aku kan ya kayak gini bajunya, terus masih suka ngeliatin rambut. Ya gimana dong, menurutku aku lebih cantik gak pake hijab.’
Foto 2. Mengajak Kebaikan Meskipun Kita Sendiri Masih Mencari Kebenaran
Dengarkan, dengarkan mereka. Rangkul, sabar, ajak lagi. Aku suka sekali dengan cara Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi bahwa menyikapi orang-orang yang sering dicap buruk bahkan sampah dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285). “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.

Betapa hidup kita tenang jika tidak terbebani pikiran tentang perilaku buruk orang. Oke, karena aku ini mahasiswa fakultas pendidikan, jadi sedikit menguak dari sisi keguruannya yak. Kalau di lingkungan kami ada yang namanya asesmen.
Dalam proses asesmen, tujuannya nanti memang menemukan solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada. Nah, sebelum memberi solusi, kita harus tahu dulu penyebab masalah yang menimpa seorang anak. Mengapa dia melakukan hal tersebut, bagaimana riwayat hidupnya, arah jalan lingkungan sampai bisa mempengaruhinya, lalu seberapa kuat influencenya dan informasi mendetail lain yang bisa mendukung.
Setelah mendapatkan semua informasi baru kita bisa memahami dan memposisikan diri sebagai dia. Jadi nggak sampai berlebihan berburuk sangka ‘oh anak ini loh, baca qur’an aja gak bisa, postingan Ignya sok hits di cafe-cafe mulu sama cowok-cowok lagi.’ Siapa yang tahu sebelum tidurnya dia menangisi semua dosa yang diperbuatnya, sementara kamu yang mengaku pendakwah bangga sudah memposting kata bijak tapi membatasi diri pada mereka yang sudah membuktikan diri berubah.
Hal konkret kecilnya sebagai contoh adalah kisahku sendiri. Dulu ketika aku kajian kemana-mana pakai jilbab paris diselempangkan, baju seadanya, kadang pakai make up kadang apa adanya. Mana ada yang ngajakin kenalan? Selalu aku yang mendahului kenalan di forum kajian. Sampai sekarang cuma 2 orang doang yang kuinget ramah nanya ‘mbak, namanya siapa’ lainnya flat, stay cool. Ya, pikirku ‘ih sombong banget sih, mentang-mentang udah syar’i terus ramahnya ke temen sesama syar’i doang. Yedahlah temenku masih banya, huh.’
Hey ukhti, akhi. Jangan berdakwah secara eksklusif begitu atau para pendengarmu akan kabur sebelum kata-kata terakhir sempat kamu ucapkan. Hm, kikuk juga sih manggil ukhti sama akhi. Tapi gapapa biar ada ala arab gitu, negeri para anbiya’ J
Kalau masih menganggap yang setiap hari pakai jubah pasti udah rajin mempelajari ilmu agama, ijinkan aku berpendapat kalau orang begini pikirannya sempit. Bandingin aja sama nggak semua orang seksi itu cuma bisa make over. Faktanya banyak perempuan pelopor yang cerdas dan solutif tampil dalam busana seksi setiap harinya. 
Foto 3. Setiap Muslimah Berhak Memperbaiki Diri
Oh iya, kamu juga kudu tahu kasus yang na’udzubillah di daerahku, Kediri beberapa waktu lalu. Jadi, ada seorang ibu berniqab dan berpakaian syar’i begitu ditemukan sebagai mayat terlantar. Ternyata dia sudah lama dikenal syar’i dan tertutup oleh tetangga.
Yang membuat terkejut adalah, ibu itu tadi sudah punya suami dan anaknya dipondokkan di Jawa Tengah, di sebuah pondok sunnah berkualitas baik. Kamu tahu siapa yang membunuhnya? Berdasarkan hasil visum dan kesaksian pelaku oleh polisi, ibu ini dibunuh selingkuhannya setelah mereka cekcok di jalan saat akan berhubungan intim ‘terlarang’ di sebuah hotel.
Wallahua’lam Bisshawab.
Tulisan ini tidak ditulis untuk menyudutkan orang atau golongan tertentu. Marilah kita buka pikiran kita. Setiap orang berhak menjadi baik, dan kalaupun ada yang masih bangga dengan kenakalannya sadarkan tanpa menyinggung atau pun menyalahkan mereka.
Demi Allâh, bila Allâh memberi petunjuk (hidayah) lewat dirimu kepada satu orang saja, lebih baik (berharga) bagimu daripada unta-unta yang merah.[5]

(Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu).
Bagaimana mau menjadi perantara hidayah kalau mendekat saja tidak mau, malah terang-terangan menunjukkan penolakannya. Iya loh, setelah aku berpakaian syar’i drastis mereka yang di kajian itu pada ngajak kenalan dan berubah ramah banget, senyumnya uh sampai memperlihatkan gigi.
Maaf ya sedikit lebay, memang sebelumnya waktu ikut kajian dengan baju apa adanya, tidak ada yang menegur ‘eh sayang, gimana kalo ganti style’ atau gimana kek. Malah setiap sini ngajak berjabat tangan atau nyapa Cuma dilihat doang atau senyum seadanya. Tapi kalau sama sesama teman mereka yang dari luarnya sudah bagus sampai cipika cipiki. Ya, siapalah sini atuh, justru makin tambah merasa tidak diterima dan tidak diinginkan to. Untungnya aku bukan orang yang kaya gitu.
Masa bodo ajalah, mereka perlu dikasihani karena harus membebani pikiran dan prasangka sendiri ke arah negatif. Padahal kenyataan belum bercerita mengapa dan bagaimana. Jangan buru-buru menganggapku orang baik, karena aku tidak ingin menjadi orang lain dalam berhijrah. Jangan hanya karena aku sudah memakai gamis, handsock dan kaos kaki lalu kamu menerimaku sebagai teman. Kemanakah Allah dan siapa yang sebenarnya kamu seru? Aku takut kamu kecewa menjadi temanku, menjauh lagi setelah tahu ternyata aku masih punya banyak hobi buruk yang kadang tak mendidik.

Referensi:



Read More

Saturday, February 3, 2018

3 Pertimbangan Penting Saat Pikiran Suicide Muncul

Gambar 1. Depresi

Maaf ya lama sekali nggak pos. Padahal udah lama komitmen ngeblog. Entah kenapa setiap ketemu temen yang bisa diajak ngobrol, nyambung diajak berkicau soal politik-penyakit-ekonomi-bisnis sampai gosip perceraian dan pelabrakan dunia selebriti rasanya males banget nulis. Ya, mungkin karena aku sudah menemukan pelampiasan dari rasa dongkol maupu  kebingunganku. Oke, tapi aku gaboleh kaya gini terus. Namanya belajar ngeblog ya harusnya aku menghabiskan waktuku di depan laptop. Nulis apapun asalkan membuat blogku tetap hidup. Duh, maafin ya blog-ku, kamu jadi sakit-sakitan gini gak keurus kaya yang punya.
Sebenarnya hari ini aku mau nulis tentang isu anget banget yang baru kemarin memanas. Seputar pemuda pemberani yang ‘nekad’ mengacungkan buku lagu UI berwarna kuning setelah meniup peluit di depan Bapak Presiden kita yang terhormat, Ir. H. Joko Widodo. Wiuh, gila banget gak sih tuh aksinya. Tanpa komando dan aba-aba, Pasukan Pengaman Presiden yang tubuhnya pada bongsor itu langsung nangkepin dia.
Eits, tapi kayanya aku mau nulis opini soal abang Zaadit yang aksinya gak selucu Bang Radit pas kena kamera di sini deh. Aku mau coba menulis buat pertama kalinya di idntimes.com. You should know di sana kalo nulis dapet upah eheheh. Bukan karena sini berkarya cuma pas butuh duit aja lo ya. Ini lebih karena desakan penasaran. Apakah tulisanku yang potensial dibaca lebih banyak orang akan diberi tanggapan kontroversial atau hanya satu warna suara saja.
Sebagai gantinya, sekarang aku mau cerita tentang betapa pentingnya hidup sehat Whizzer. Beberapa hari yang lalu aku pergi ke konselor dan menceritakan tentang semua perasaan yang aku alami belakangan ini. Konselor cantik yang mata dan senyum ramahnya tak bisa ku lupakan itu bertanya ‘kamu mending mana. Sehat fisik atau jiwa.’ Tanpa pikir panjang aku sih milihnya jiwa ya. Karena aku sendiri ngrasain akibat pikiran yang tidak sehat, jiwa dan fisikku melemah terus menerus sampai akhirnya aku harus datang ke tenaga profesional. Sekarang aku punya alasan kuat kenapa aku harus semangat menjalani hidup ini.

  • Merugikan Orang Lain

Aku tau banget orang kalo udah putus asa, bingung, sedih pikiran atau niatan suicide pasti sering terlintas. Para guru dan ustadz bilang bertumpuk kata mutiara dari sumber A, B, C juga gak ngefek banyak. Mainstream. Ya aku tau karena sudah sering banget ngalamin.
Itu adalah titik di mana aku lebih suka menghabiskan waktu menonton video band-band metal progressive dan soft rock dengan jalan cerita di video clip yang menyakitkan seperti cerita hidupku daripada mendengarkan ceramah atau nasehat dari orang-orang yang dianggap ‘baik dan suci.’
Maksudku bukan aku menganggap mereka tidak memiliki peran penting dalam kehidupan orang-orang yang stress berat. Kami ini ada di titik membutuhkan rangkulan dan dukungan. Kalau tidak sanggup memberi maka jangan mengadili atau melabeli kami. Sungguh, itu bukan tindakan bijak sekalipun kalian menganggapnya perbuatan mulia untuk menolong kami.
Gambar 2. Pelarian Depresi pada Obat-obatan
Alasanku harus tetap semangat hidup sehat adalah jika aku terus-terusan terpuruk dalam perasaan bersalah atau negative feeling lainnya maka aku ini jahat banget sebenernya. Aku merugikan orang lain. Siapa yang bisa menjamin besok temanku mengalami masalah hidup yang sangat berat, lalu dia pas barusan melihat aku serta sikapku pada kehidupan. Dia terinspirasi. ‘Ih kok kayaknya enak ya ijin kuliah melulu alasan sakit,’ ‘Kok kayaknya lebih baik aku nyerah aja sama hidup ya.’
Ketika aku depresi untuk pertama kalinya, yaitu sewaktu aku masih duduk di bangku SMA aku mengganti status Blackberry Messenger –maklum, dulu belum ada IG sama WA- menjadi “depressed.” Aku justru makin bersalah ketika ada 2 orang temanku kemudian mengikutiku jejakku. Mereka sama-sama sedang depresi. Meskipun depresinya mereka sama sekali tidak dipicu olehku, tapi membuat mereka menikmati rasa downnya adalah suatu kesalahan bagiku. Jadi ku putuskan mulai sekarang aku tidak boleh merugikan orang lain lagi. 
  •  Mengorbankan Orangtua

Aku memang bukan anak yang baik. Cara bicaraku pada orangtua tidak sopan, aku tidak tanggap atas semua perintah mereka. Bahkan ku akui aku sering tidak menyukai mereka. Namun suicide bukanlah tindakan terbaik sebagai solusi masalah. Prinsip dan alasan utama bertahanku adalah tidak merugikan orang lain. Sementara setelah menyerah pada keadaan, aku akan membuat kedua orangtua ku malu setengah mati.
Di dunia para tetangga pasti diam-diam mengolok-olok ibu ‘Eh tau nggak sih bu, Bu X ini lo anaknya bunuh diri. Katanya sih gara-gara kebutuhan sekolahnya nggak pernah dikasih sama orangtuanya. Yaampun orangtua macam apa sih dia itu. Udah anaknya mati bunuh diri yang satunya kuliah nggak lulus-lulus. Makanya bu kalau belum bisa didik anak gak usah bikin anak.’
Ya, aku udah mikir sampe kaya gitu. Betapa ingin ku sobek saja mulut mereka yang omongannya ngaco begitu. Ini sih bukan halusinasi atau ketakutanku aja ya. Kalo kalian udah pernah hidup deket masyarakat pasti tau dong daerah yang ibu-ibunya terdidik membicarakan ide ketika ngumpul dengan daerah yang para wanitanya menggosipin tetangga bahkan kerabat dekatnya sendiri secara sadis lebih banyak mana populasinya. Aku kasihan sama orangtuaku kalo dijadiin korban.
Ada sebuah hadits dan Firman Allah SWT yang melarang kebiasaan bergunjing alias gossip. Kebiasaan ini diibaratkan memakan bangkai saudaranya sendiri. Jijik sih, tapi nyatanya gossip renyah sampai dijadiin bisnis. Gak suka ah. Apalagi kalo orangtua ku yang diomongin gak bisa didik anak. Padahal suicide emang udah jadi pilihanku, sekeras apapun orangtuaku memberi arahan. Mereka sok tau. Kejemmm banget sok taunya. 

  •  Lebih Banyak Orang Kecewa

Alasanku ingin meninggalkan bumi adalah merasa sudah mengecewakan banyak orang, tidak berguna, ngrepotin, dan semua hal-hal buruk. Sekarang entah apakah ini akibat dari beranjak dewasa atau Tuhan yang mengirimkan ilhamNya.
Aku pikir ketika aku tiada akibat bunuh diri, maka akan semakin banyak orang yang kecewa padaku. Para dosen yang senang berdiskusi denganku, teman yang suka hang-out meski cuma  beli cilok di seberang gedung perkuliahan, kakak tingkat yang berharap aku bisa dikader, kakak organisasi yang berharap organisasi itu bisa berkembang berkat hadirnya generasi baru, penjual nasi langgananku yang omsetnya akan menurun, sampai para haters yang akan merasa bersalah dan kesepian karena bingung mau ngebully atau nyetalk abis siapa lagi.
Gambar 3. Pikiran Mengakhiri Hidup Sendiri pada Orang Depresi
Pada akhirnya aku akan mengecewakan lebih banyak orang jika menyerah begitu saja. Jadi aku harus bertahan. Aku harus bertahan meskipun sakit. Meskipun keras dan tak mudah. Aku tidak perlu bercerita detail masalahnya ku rasa. Ini blog, bukan diary. Oke. Yang terpenting orang-orang yang sedang terpikirkan untuk suicide bisa mempertimbangkan tiga hal ini.

Aku tau, memikirkan hukum agama di saat kondisimu sangat buruk malah akan membuatmu tertekan. Maka bebaskan. Bebaskan sebebas-bebasnya. Kamu hidup di dunia tidak boleh egois. Kamu boleh suicide, tapi pastikan juga tidak ada orang lain yang akan bersedih berhari-hari sampai nafsu makannya turun lalu jatuh sakit akibat bersedih atau merasa bersalah.

Silahkan suicide asal kamu sendiri juga bisa menjamin tidak ada efek negatif lain yang kamu sebarkan ke orang lain dan kamu sendiri juga yang akan memastikan tidak akan ada orang yang dirugikan akibat terinspirasi kisahmu kemudian dia mengikuti langkahmu menjemput kematian yang sebenarnya belum tentu membahagiakan.
Read More

Wednesday, October 18, 2017

Mahasiswa UM Melayani Anak Berkebutuhan Khusus di Desa Tersembunyi



Menjadi luar biasa memang butuh air mata, keringat bahkan darah yang harus dikorbankan sebelum mencapainya. Kira-kira ucapan dari Bapak Mantan Presiden ke-3 RI, Ing. B.J Habibie bikin aku tidak gampang tertarik dengan hasil-hasil menggiurkan tanpa proses. Keinstanan memang menggoda, tapi ibarat mie instan, proses itu tidak menyehatkan sama sekali. Hanya saja memberi kepuasan sesaat, kenyang sebentar.

Dahulu ketika sedang menempuh pendidikan sejak SD-SMA, aku punya banyak cita-cita yang ku pikir semuanya tinggi. Aku tidak ingin menyebut diriku sendiri tidak tahu diri, tapi marilah kita sama-sama membangun mental positif dan percaya kita juga bisa menjadi apa yang kita impikan. Bukankah Tuhan telah mengizinkan kita bermimpi? Lantas kenapa harus ragu kalau impian-impian besar terlalu muluk?
Jendela Depan SLB Tamima Mumtaz

Membanggakan Indonesia?
Memberikan warna pada kehidupan orang lain ternyata tidak harus dengan kita menjadi pengendali kekuasaan di negara ini. Pikiran simpel yang baru aku pahami pada saat di bangku perkuliahan mendorong kami untuk take action daripada hanya sekadar menyusun mimpi sistematis. Selama ini kami berani bermimpi, tapi belum tahu keajaiban bagaimana yang akan diturunkan Tuhan agar harapan-harapan baik itu bisa menjadi kenyataan.


Membuat orang lain dalam suatu lingkungan tersenyum karena merasa kondisi hidupnya sudah lebih baik merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kami, dan kamu pastinya. Apalagi kalau melihat mereka semakin mendekatkan diri pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukurnya, sensasi kalau ternyata keberadaan kita useful bakalan lebih plus-plus.


Di sini aku ingin bercerita tentang action yang udah aku dan teman-teman serta kakak-kakak dari HMJ PLB UM (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang) berikan untuk masyarakat. Yakan kembali lagi ke tridharma perguruan tinggi –ceilah, ala PKKMB- dimana tridharma ketiga,  yaitu pengabdian belum menjadi bagian dari jiwa mahasiswa sekarang. Aku tidak bermaksud menjudgement siapapun karena ini sebenarnya juga notes for myself. Mungkin kalau nggak diajakin sama kakak-kakak yang super inspired ini aku juga gak akan ikutan ngasih kontribusi.
Pasti kamu kalau ditanyain “Kenapa Indonesia harus bangga punya kamu?,” “Yakin udah pantes disebut putra bangsa?” “Udah pernah ngasih apa aja buat Indonesia” dan sederet pertanyaan semacam itu pasti akan muncul ketika kamu berusaha ngedapetin beasiswa, terutama yang sumbernya dari Pemerintah atau lembaga swasta lain yang memang sudah profesional. Yap. Dulu ketika aku masih masa perjuangan reaching beasiswa ini itu aku juga bingung. Duh, aku mah apa atuh, ikut lomba lolos tingkat nasional aja belum, apalagi ngasih medali buat harumin nama negara.

Pikiran seperti itu udah pantes dibilang kolot. Bukankah perubahan besar dimulai dari step-step kecil? Walaupun dikit, tapi real and clear kita ngasih impact ke lingkungan. Itu udah bagian dari membantu usaha pemerintah membangun negara. Iya kan? Lingkungan yang kita bikin senyum itu bagian dari Indonesia kan? That’s why we should remain holding our commitment to serve our sector passion.

OTW Mendirikan SLB
Oke deh, sekarang aku mau langsung cerita apa sih yang udah diusahakan sama HMJ PLB UM buat mendidik putra putri bangsa ini. Well, jadi guru reguler dibanding guru anak luar biasa pastinya tak ternilai. Kita sama-sama dobel dapetnya, akhirat dan dunia. Tapi proses mendidiknya tentu beda. Di sini kelebihannya guru hasil outcome dari Pendidikan Luar Biasa. Kita bisa terjun untuk anak regular maupun anak luar biasa. But,  nowadays beberapa jurusan pendidikan sudah dibekali materi untuk persiapan menjadi guru sekolah inklusif.

Salah Satu Siswa Autis-Low Vision
Ini adalah kegiatan kami ketika berada di Desa Madiredo, Pujon. Pastinya harapan awal kami ingin mendirikan Sekolah Luar Biasa di sana. Namun karena beberapa kendala seperti biaya pembangunan dan operasional, tenaga, sampai waktu jadinya anak-anak yang lucu ini hanya bersekolah pada hari Sabtu dan Ahad. –Ahad sama dengan Minggu.

Jika ada murid 7 termasuk sudah mencukupi dan memang cukup layak disebut sebagai SLB karena telah memungkinkan diselenggarakannya kelas belajar pembelajaran. Namanya juga murid luar biasa, selalu memberikan tantangan yang luar biasa pula kepada siapa saja yang bermaksud terjun menyentuh mereka. Kadang tidak semua orangtua telaten menyekolahkan anaknya meski hanya dua kali dalam sepekan. Tidak semua anak juga memiliki tingkat perhatian dan minat bersekolah tinggi. Dari sini aku sadar, tidak perlu jauh-jauh mencari tempat terpencil di perbatasan Indonesia-Malaysia kalau ternyata di daerah-daerah yang masih masuk Pulau Jawa juga banyak kekurang merataan kesempatan.
Bagian Dalam SLB Tamima Mumtaz

Sementara itu, beberapa anak sangat bersemangat sekolah. Meskipun terkadang harus dijemput dulu ke rumahnya karena keluarganya tidak ada yang mengantar lalu menunggu pendidik sampai datang ke Balai Desa Madiredo –tempat SLB sementara . Melihat senyum di wajah mereka, mengingat ketika mereka menarik tangan kita dan meminta bimbingan menuju SLB Mumtaz –nama SLB sementara- semangat kita justru bertambah lagi. “Ayo sekolah” Ucapan seperti itu benar-benar menjadi pemicu bagi kami para volunteer.

Para murid di sana tidak memiliki hambatan yang sama. Ada yang tunaganda (Ketunaan dobel), autis, low vision (Tuna netra yang masih punya sisa penglihatan meski bendanya harus didekatkan), tunadaksa (Ketunaan pada bagian anggota gerak tubuh), dan tunagrahita (IQ di bawah rata-rata).

Memberi Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
Yusuf, seorang penyandang autis sekaligus low vision yang dulunya waktu pertama kali mahasiswa kami menyentuh desa tersebut dia tidak banyak bicara. Karakter pendiam, tidak merespon, tapi sebenarnya bisa bahkan cerdas itu adalah salah satu ciri anak autis. Ada kepuasan tersendiri pada saat anak mengalami peningkatan dalam hal apapun. Bagi kami, mengajarkan akhlaq atau tata krama bagi anak luar biasa lebih penting daripada memaksa mereka harus sama seperti orang lain. Kemudian setelah itu, barulah mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan psikomotor (keterampilan).




Mengenalkan mereka kepada nama buah, hewan, melempar bola, mengucapkan salam, berkasih sayang sesama teman dan mengajari angka serta alphabet adalah bagian dari usaha kami. Anak luar biasa membutuhkan pengulangan-pengulangan alias repetition pada saat dia mempelajari sesuatu yang baru. Jika guru tidak telaten, sama-sama kasihan antara anak dan guru itu sendiri. Oleh sebab itulah kami juga berusaha all out melayani kebutuhan khusus mereka.

Kakak dari salah satu ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sering membelikan es krim di ujung jam kelas. Stimulus seperti ini bisa membiasakan diri anak mandiri mengurus dirinya sendiri seperti makan tanpa bantuan orang lain.
sumber: dok pribadi
Ada satu anak bernama Putri yang membuatku ingat lagi betapa pentingnya apresiasi terhadap karya orang lain. Putri ini seorang tunadaksa juga tunagrahita. Umurnya sudah 9 tahun tapi tubuhnya sangat kurus kering karena tidak tumbuh secara sempurna. Untuk mandi saja dia masih bergantung kepada ibunya. Namun dia menyadarkan kami akan nilai “Kalau ingin dihargai maka hargailah orang lain.” Setiap Putri berhasil menyebutkan nama buah atau sukses melakukan instruksi lain dari guru, dia selalu meminta orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan untuknya.

Putri belum bisa bicara, lidahnya sangat pendek. Jadi dia menepuk lantai atau memegang orang yang belum memberi tepuk tangan untuk keberhasilannya. Sehingga kami terbiasa memberi apresiasi tanpa diminta sebagai bentuk penghormatan atas usaha orang tersebut, baik benar atau salah, sesuai ekspektasi atau tidak.

A Circumstance
Lalu bagaimana awal mulanya mahasiswa UM bisa menjadi pendidik di Desa https://visitmadiredo.wordpress.com/2016/01/29/visit-madiredo/. Dulunya tempat ini menjadi lokasi KKN kakak tingkat sebelumnya. Kami juga melihat ada beberapa Universitas selain www.um.ac.id yang pernah menjangkau tempat tersebut. Beberapa peninggalan berupa mainan dan media ABK adalah sumbangan dari mahasiswa www.ub.ac.id dan www.uns.ac.id. Setelah itu HMJ PLB UM beserta dosen di sini berinisiatif melanjutkan pemberian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sana.
Jalan Menuju Desa Madiredo


Ibu Lurah Desa Madiredo sampai saat ini masih mengusahakan dukungan sarana prasarana yang lebih mendukung demi kemajuan penyelenggaraan pembelajaran. Hingga kini pun kami sebagai volunteer masih mencari ke sana-ke sini bantuan buku untuk materi anak TK, supaya anak-anak di sana punya lebih banyak pengalaman nyata dalam usahanya mengenal dunia di mana setiap benda punya nama dan setiap kejadian ada ceritanya.

Jangan ditanya dikasih gaji berapa buat rasa capek Kota Malang-Pujon dua kali sepekan. Bukannya masing-masing dari kita juga butuh liburan, ada tugas kampus, harusnya jatah pulang kampung? Okedeh. Don’t bothered the other. Jangan ngrepotin temen kamu yang udah jaga komitmen melayani anak berkebutuhan khusus dengan hal-hal egois. Kalau kita tulus ikhlas dan berkomitmen inshaallah pasti ada aja keberkahannya kok. Seriusan deh. Bisa jadi lebih lancar saat memahami materi di kelas, lebih dekat sama dosen, atau semakin dekat sama jodoh –eh. Soal liburan, slow man slow, pelayanan bukan mengasingkan diri kok. Madiredo yang terbilang terpencil ini indah banget. Ala hawa kaki pegunungan gitu.


Hawa Adem Sepanjang Perjalanan


Kami adalah tim. Kalau memang ada yang harus izin ya izin nggak dateng, thus yang lainnya ngegantiin dateng ngajar anak-anak. Kalau gak ada yang bisa, mari kita sama-sama ingat harapan mereka dan orang-orang di Madiredo tentang bisa sekolahnya anak-anak ABK itu. Otomatically kalau masih normal, pasti ada beban moral dong ya. Iya, jaga komitmen itu susah, bukan Cuma komitmen pernikahan, tapi juga komitmen jadi bagian dari  volunteerpujon.

Well done. Sampe sini makasih banget udah nyimak cerita kami sebagai volunteer anak berkebutuhan khusus di Pujon. Semoga manfaat ya, btw kalau ada informasi tentang donatur buku yang tadi komen dong atau email boleh.  Doain semoga segera ada SLB formal di sana :-) Let's bright our environment.
Read More