Saturday, December 17, 2016

Haruskah Anak Mengejar Nilai Raport ?

Hasil gambar untuk terima raport
sumber gambar : malukupost.com



Raport merupakan laporan hasil belajar siswa yang disampaikan oleh pihak sekolah ke orangtua siswa secara periodik. Laporan ini berguna sebagai bahan evaluasi untuk orangtu dan anak agar dapat meningkatkan prestasi belajarnya di semester yang akan datang. Dalam sistem pendidikan Indonesia sebelum menggunakan kurikulum 2013, pelaporan raport ini biasanya disertai ranking. Baik ranking di kelas maupun ranking paralel dari seluruh kelas yang ada di sekolah tersebut. Diakui atau tidak, banyak anak yang kemudian berusaha keras menduduki ranking tertinggi di sekolahnya supaya mendapatkan penghargaan. Ya, memang masyarakat kita telah terbiasa menilai masa depan seorang peserta didik dilihat dari prestasi akademisnya. Padahal jelas tidak demikianlah faktanya. Semua anak berhak mendapatkan masa depan mapan. Tak terkecuali anak yang biasa dicap bandel.

Raport Semester Ini
Saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman menerima raport pada semester ini. Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 telah diakhiri dengan penerimaan raport yang hampir bebarengan di seluruh wilayah Indonesia. Rasa deg-degan pasti muncul di hati anak-anak yang merasa prestasinya turun, begitupun saya. Saya merasa semester awal kelas 3 SMA ini sangat kurang maksimal.

Sesuai petunjuk guru, semester 5 pada jenjang SMA dianggap sebagai semester terakhir penentu kelulusan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Semua guru di sekolah tak pernah bosan mengingatkan agar belajar lebih keras lagi dan lagi. Bagi beberapa siswa, suruhan semacam ini bukan malah memacunya belajar tekun, melainkan bosan belajar. Pada dasarnya tidak semua anak harus berprestasi di semua mata pelajaran yang ada di sistem pendidikan kita. Beberapa di antaranya memang terlahir sebagai seniman, penulis dan pemusik. Mereka tidak terlalu tertarik mempelajari sesuatu dari dalam buku. Apalagi jika dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak boleh keluar dari buku. Rasa ditekan, dipaksa berpikir sesuai kotak dan tidak bisa berekspresi bebas malah dapat membuat anak terbebani.

Di pikiran saya, semester ini adalah semester paling sulit dalam sejarah pendidikan wajib saya. Kadang saya merasa menyesal dan mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa saya harus mendapatkan masalah keluarga di usia perkembangan remaja. Usia-usia rawan pelampiasan salah, usia yang belum matang kedewasaannya dan usia seharusnya anak masih bersenang-senang. Semester ini saya mengalami gejala stress ringan yang berlanjut terkena penyakit personality disorder cluster A yang nanti akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Flashback
Lanjut lagi, saya merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sekolah pun saya sering terlambat. Dari awal masuk semester pada bulan Agustus 2016 sampai November kemarin sudah ada sekitar 15 hari aktif yang saya ikuti terlambat. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi bagi siswa kelas 3. Seharusnya siswa kelas 3 sudah fokus pada pelajarannya dan bisa mengatur waktu bagi diri sendiri. Tapi saya merasa ini urusan dan tanggungjawab saya sendiri. Sekolah saya merupakan salah satu dari segitiga emas SMA di dalam kota saya. Sehingga memiliki jumlah keterlambatan sampai belasan kali membuat nama saya dihafali oleh para guru penjaga.

Dulu saya adalah murid yang rajin, kadang-kadang saya menghabiskan waktu dengan membaca buku atau hal-hal bermanfaat lainnya. Tetapi sejak keluarga berantakan ditambah penyakit psikologis yang mendera, saya sadar bahwa mengejar prestasi akademis tidak lebih penting dari membentuk karakter diri sendiri. Bagaimana cara kita menghargai orang lain, menyikapi setiap komentar dan ejekan orang lain, mengucapkan maaf serta terima kasih tidak pernah dipelajari di dalam buku penunjang sekolah. Padahal di dunia luar, etos kerja seseorang bisa dilihat dari kebiasaannya melatih sikap-sikap diri seperti itu. Ketika Anda nanti ingin berwirausaha lalu sukses, orang tidak akan menanyakan apa saja prestasi Anda selama di bangku sekolah. Mereka akan penasaran pada bagaimana perjalanan Anda menuju kesuksesan besar.

Haruskah Mengejar Nilai ?
Opini saya di atas bukan berarti saya menganggap prestasi akademis tidak penting. Prestasi akademis itu penting karena nanti ketika Anda ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi bonafit, nilai raport akan menjadi pertimbangan diterima atau ditolaknya kita. Selain itu, dalam seleksi pegawai perusahaan, ijazah terakhir banyak dipakai. Tetapi dari semua itu, pastikan dulu masa depan seperti apa yang Anda rancang. Selanjutnya barulah tempatkan sesuai porsinya waktu dan prestasi Anda. Terakhir, berserah dirilah kepada Tuhan. Sekeras apapun kita berusaha mengejar nilai bagus, kalau Allah tidak menakdirkannya, usaha tersebut bisa jadi di luar harapan. Ujung-ujungnya ? Kekecewaan.
Sedikit tambahan, saya tidak terlalu terpaku pada nilai di semester ini. Hari demi hari bersekolah saya lalui seenjoy mungkin. Saya benar-benar santai menjalani sekolah. Ulangan yang intensitasnya sering tidak pernah saya jadikan beban. Malah belakangan ini saya aktif menjadi penulis konten dan belajar menulis di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) yang alamatnya di emakpintar.asia.

Saya menyerahkan diri pada Allah. Kalau memang nanti tidak lolos di SNMPTN karena nilai dan ranking turun, ya saya harus cari jalan lain. Allah memang romantis. Banyaknya teman yang meragukan kemampuan saya di semester ini dan tentunya saya senyumi saja sekarang bingung karena saya menempati urutan kelima di kelas. Teman saya yang semester kemarin juara 2 menjadi ranking 6. Itu penilaian secara total jumlah nilai kognitif plus psiko. Beda lagi dilihat dari salah satunya saja, di aspek psiko ternyata saya menduduki peringkat pertama di kelas dan kelas saya adalah kelas terbaik dari seluruh kelas jurusan ilmu sosial. Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Dengan peristiwa ini, saya bisa mengatakan kepada Anda: ‘Percayalah, ketika kita melibatkan Tuhan, Tuhan akan selalu memberi sesuatu sebelum kita memintanya. Tetap nomor satukan Tuhan sebelum memilih orientasi ke yang lain.’ Tetap optimis ya, selamat berproses. Jangan lupa singkirkan malasmu secara praktis.

3 comments

This comment has been removed by the author.

Benar sekali ..Kadang terlalu ngejar nilai rapor sampai lupa proses belajar. Suka dengan quotenya : Percayalah ketika kita melibatkan Tuhan, Tuhan akan memberikan sesuatu sebelum kita memintanya. Siip, tetap semangat yaaa

hehe makasih ya Bunda Restu Agustina,
selamat menjadi ibu rumah tangga supaya anaknya dapat berprestasi
btw makasih udah berkunjung :)


EmoticonEmoticon