Thursday, January 12, 2017

Nanda Mei Sholihah : Atlet Nasional Tanpa Lengan Penyabet Medali Emas di ASEAN

credit picture : www.kompas.com
Tidak ada ibu di dunia ini yang berharap melahirkan seorang anak cacat fisik, apalagi cacat mental. Namun takdir bukan dikendalikan oleh manusia sebagai pihak yang menjalaninya. Ada kekuatan yang paling Maha lebih berhak menentukan sebuah takdir. Tugas kita sebagai manusia bukan untuk menghakimi, mengomentari atau sok bersimpati. Lebih dari itu, manusia harus bisa mengambil pelajaran hidup dari setiap peristiwa yang terjadi. Termasuk segala fenomena di sekitar kita, kecil atau besar. Dan kisah ini akan menceritakan tentang seorang anak penyandang difabel dari kota Kediri. Hust.... ngomong-ngomong cewek tangguh ini adik kelasku sendiri, lhoh. SMA Negeri 7 Kediri Prima Jaya Luar Biasa.

Adik Kelas
Namanya adalah Nanda Mei Sholihah. Ketepatan aku adalah pengurus OSIS di SMA. Waktu itu setahun yang lalu, aku kelas XI dan angkatannya di-MOSi oleh angkatanku. Usut punya usut aku sendiri tidak pernah mengenal anak hebat ini jika tidak karena kecacatan fisiknya yang membuatnya menonjol di antara gerombolan teman sebaya. Padahal dia seharusnya menjadi adik asuhku saat masih MOS berlangsung. Saat itu teman-temannya hanya bilang padaku kalau dia tidak bisa ikutan MOS karena harus TC (Training Center) untuk persiapan lomba. Sudah, sependek itu saja alasannya dan aku tidak penasaran apapun.

Sebuah kabar mengejutkan sekaligus menggembirakan dibawanya sebagai oleh-oleh. Teman angkatannya sudah mulai masuk KBM semester selama sebulan, eh dia baru datang. Anak perempuan ini memang jarang masuk sekolah. Tapi bukan berarti dia malas sekolah atau sekolah hanya sebagai pantas-pantasan saja. Dia absen disebabkan oleh kewajibannya sebagai seorang atlet memang menuntut latihan fokus dan rutin. Jadi tugas-tugasnya dikerjakan dari sumber buku yang dibekalkan Bapak Sony Tataq (Boss besarnya smaptakdr.sch.id) ketika latihan di Solo. Dari kota orang itu juga dia mengirimkan tugas via blog guru -dampak modernisasi banget ini-. Lagi pula Nanda membawa pulang medali dari ASEAN Youth Para Games. Dia sudah beberapa kali menyabet juara tingkat internasional dan mempersembahkannya buat merah putih kita. Wah, kita saja yang normal belum tentu bisa ngasih piala buat sekolah. Jangankan sekolah, di kelas saja malah jadi buronan para guru akibat kebandelan tanpa isi.

Kenapa aku bilang kebandelan tanpa isi ? Karena di luar sana ada banyak tokoh jagoan yang bandelnya minta ampun. Cara hidup, menyikapi masalah dan seterusnya memang unik. Tapi mereka bisa memberikan pencapaian dan prestasi yang bergengsi. Pencapaian yang menurut kebanyakan orang bernilai fantastis.

Ditolak Sekolah
Di dalam blog pribadinya, nandamei99.blogspot.co.id, cewek cantik berambut panjang itu menuliskan memoar seputar kehidupannya. Hampir sama seperti aku sendiri yang nggak pernah ngrasain  kehidupan TK dan divonis nggak bakal naik kelas di SD. Nanda Mei juga pernah ditolak mentah-mentah oleh beberapa TK di sekitar rumahnya, lingkungan Dandangan Kota Kediri pada waktu proses pendaftaran. Bayangkan saja bagaimana teririsnya hati seorang ibu yang berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi buah hatinya nyatanya mendapat penolakan. Yang paling bikin nyesek ternyata bukan lagi ditolak jalan sama doi. Kisah Nanda Mei ditolak akibat tangannya tidak punya sebelah lengan ini membuatnya jadi anak kecil pendiam.

Ibu Nanda pulang ke rumah dengan sesenggukan. Beliau menceritakan penolakan-penolakan yang diberikan oleh beberapa TK ke kakek Nanda Mei. Kecenya, kakek Nanda bukannya sedih eh malah marah-marah karena merasa cucunya nggak kekurangan apapun. Sehat wal afiat lahir batin. Mungkin pikiran si ibu saat itu, kalau di jenjang pra sekolah formal wajib 12 tahun saja sudah direject, malah disarankan masuk ke SLB, lalu gimana sama jenjang lanjutannya ?. Padahal bukankah pendidikan milik semua orang ? Lagian siapa juga yang mau dilahirin cacat. Cuma ya kita nggak bisa maksa Tuhan nyiptain tubuh kita sempurna. Kita ini hamba. Hamba tugasnya menghamba, bukan mengeluh.


Lebih Dari Orang Normal
Nah, cerita lanjutan dari jagoan lari spesialis 100 – 400 meter asal Kediri ini nggak kalah sama para pelari dan motivator difabel dunia yang biasanya dijadiin bahan motivasi saat menjelang ujian sekolah. Menurutku, Nanda Mei adalah gadis cantik sekaligus tangguh. Beberapa orang di sekolahku melihat sendiri bagaimana kelihaiannya mengendari motor. Padahal nggak semua orang normal berani naik motor berkecepatan tinggi. Lhah ini yang difabel aja nyatanya bisa kok.

Pencapaian terbesarnya sampai saat ini adalah mengantongi tiga medali emas di ajang ASEAN Para Games 2015 yang digelar di negeri Singa. Sebelumnya ia juga pernah tampil memukau di ASEAN Youth Para Games 2013 Malaysia dan membawa pulang medali emas pula. Yang terbaru adalah medali emas dari event Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 di Bandung, Indonesia. Tentunya prestasi selevel itu tidak dicapai secara tiba-tiba. Ada latihan keras dan intens yang terus dijalani oleh Mei. Dia juga memiliki pendirian teguh yang makin mengokohkan prinsip dalam hidupnya.

Jangan tanya dulu bagaimana caranya menyikapi hinaan orang yang nyinyir melihat tangannya tanpa lengan. Dulu sekali sebelum menjadi seorang atlet, Nanda memang pernah minder. Wajar saja jika seorang anak juga ingin mendapat perlakuan sama dari lingkungannya. Namun Tuhan memang romantis. Seorang pelatih atlet difabel www.npcindonesia.org bernama Karmani mengamati perilaku Nanda dari hari ke hari. Dia pun mengatakan ucapan sederhana namun sangat menancap di sanubari seorang anak yang merindukan sebuah penghargaan dari lingkungan agar terus dianggap keberadaannya. Karmani menanyai ‘Nanda, apa kamu nggak pengen naik pesawat gratis terus jalan-jalan ke luar negeri ?’ Kira-kira bujukan itu menggoyahkan keminderan si Nanda kecil. Gadis manis itu pun segera bangkit dari kondisi terpuruknya. Waktu itu sih Nanda memulai latihan sebagai calon atlet di lapangan Desa Bawang, Kediri atas ajakan Pak Karmani.

Rahasia Utama 
Dia cuma pengen berlari dan terus berlari. Nah, ini nilai yang pengen aku bagiin ke pembaca whiztale. Dek Nanda yang notabenenya pernah sangat terpuruk akibat takdir dari lahir saja akhirnya bisa disegani banyak orang di dunia internasional. Sekarang ini dia sudah tercatat sebagai atlet nasional Indonesia, lhoh. Kadang-kadang kita emang nggak butuh omongan orang. Sewaktu nggak butuh itu. pilih-pilih dong pas ngedengerin omongan orang lain. Bisa jadi mereka bermaksud nasehati tapi ucapannya malah menyakiti atau menyinggung kondisi kita. Kalau sudah begitu coba keep calm dulu. Tarik nafas, keluarkan, dan tutup telinga. Bersikaplah seolah kamu emang nggak punya kekurangan apapun yang harus menjadi catatan khusus dalam proses meraih impian.


Sebuah cerita klasik menuturkan kisah dua ekor Katak yang berlomba meraih puncak menara. Kedua katak ini adalah yang tersisa dari ribuan katak yang mencoba naik menara. Di tengah jalan, si Katak pertama melihat menara dan mempertimbangkan kecepatan serta omongan Katak-katak di bawah menara yang lebih dulu jatuh. Katak A ini memperhatikan betul betapa banyak Katak yang jatuh sebelum sampai. Sementara itu, yang kedua malah terus meloncat naik, naik dan naik sampai akhirnya ia mencapai puncak. Ketika dikorek, ternyata Katak kedua ini tuli. Makanya dia tidak dengar apapun ucapan rakyat Katak yang berjatuhan.

Cerita di atas bisa dong diambil sendiri maksudnya. Kadang kita memang perlu menulikan telinga biar semangat diri terus membara. Simplenya ‘ngapain sih kamu mikirin omongan orang lain ? Orang mereka aja ngomongnya nggak mikir kok.’ Dek Nanda Mei ini mewakili kisah Katak di atas.

Oke, sekarang aku tanya deh. Kamu udah punya penyemangat kan dalam hidup ?. Satu sumber apa banyak ? Fokus aja ke orang-orang yang jadi penyemangat hidup kamu. Setiap kamu latihan atau belajar berproses menuju tujuan, ingat terus gimana kira-kira wajah mereka melihat kamu sedih dan meratapi nasib dan bandingkan dengan keceriaan bahkan air mata serta peluan mereka saat lihat kamu sukses sama target-target yang sudah kamu buat. Mereka pasti bangga. Percayalah, separah apapun orang lain mengucilkan kamu, mengerdilkan semangatmu, bilang kamu nggak bisa. Ya tanggap aja deh. Kasih senyum terus catat baik-baik omongan mereka yang bikin hati kamu panas. Bikin target dan strategi mencapainya. Pastikan proses itu nggak ngerugiin orang lain ya. Kalau udah, realisasikan. Itu baru yang namanya dendam damai. So, masih yakin malas-malasan bisa bikin sukses asal beruntung ?. Singkirin aja deh malasmu mulai sekarang daripada nyeselnya gak bisa dibayar.
            

2 comments


EmoticonEmoticon