Wednesday, January 31, 2018

Mengenal Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang

Hari ini saya akan menceritakan tentang jurusan yang saya ambil di perkuliahan, Pendidikan Luar Biasa. Bersyukur rasanya ketika melihat lebih banyak respon positif daripada negatif ketika orang—orang tahu saya berkuliah di jurusan yang masih tergolong asing di Indonesia ini. 

Pendidikan Luar Biasa dari harfiahnya sudah bisa dibayangkan akan banyak bersinggungan dengan orang-orang luar biasa (disabilitas). Orang-orang yang oleh Tuhan diciptakan memiliki kondisi tidak pada umumnya baik sejak lahir maupun akibat kecelakaan sewaktu sudah dewasa. 

Sekilas kami tampak seperti para pekerja sosial yang merawat orang-orang dengan iba. Tapi di sini kami tidak diajari menumbuhkan iba dari orang normal supaya anak luar biasa tetap dapat bertahan hidup. 




Di Indonesia, sudah ada lebih dari 10 perguruan tinggi yang membuka program studi Pendidikan Luar Biasa. Salah satunya adalah kampus saya, Universitas Negeri Malang yang terletak di Jalan Semarang No 05 Kota Malang. Di sini PLB masuk ke dalam Fakultas Ilmu Pendidikan, fakultas tertua di UM yang telah menghasilkan para guru terbaik di tanah air. 

Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang masih baru berdiri pada tahun 2010, sehingga masih tergolong prodi baru. Namun prestasi serta pertumbuhan prodi ini tergolong amat cepat. Dalam waktu kurang dari 10 tahun PLB UM memiliki Professor, mendapatkan kunjungan studi banding dari salah satu universitas terkemuka di Malaysia, mengadakan seminar internasional, memiliki jurnal internasional sendiri (ICSAR Journal) bahkan sudah berani membuka prodi serupa untuk pascasarjana.

Pembelajaran di Pendidikan Luar Biasa UM banyak memadukan antara teori dengan praktek. Bahkan para alumninya sudah hampir berhasil membuat Sekolah Luar Biasa baru untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Desa Madiredo, Pujon yang kebanyakan datang dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Selanjutnya, SLB ini dikelola bersama dengan mahasiswa aktif yang bersedia menjadi volunteer setiap hari Ahad. 

Ada prinsip kuat yang dipegang oleh para pejabat akademik PLB UM. Prinsip ini ‘Lebih baik kekurangan dosen daripada dosen yang mengajar tidak memenuhi standar kualitas profesional.’ Sehingga di jurusan ini hampir semua dosennya masih impor dari jurusan lain. Beberapa dosen muda yang melamar dan ternyata nilai tesnya tidak memenuhi target akan tetap ditolak betapapun jurusan sedang sangat membutuhkan tambahan tenaga pengajar. 

Akibat prinsip di atas pulalah banyak dosen asli lulusan PLB yang aktif harus menambah banyak jam mengajar supaya semua kelas serta angkatan mendapatkan pelayanan pendidikan setara serta terbaik.
Dari segi akademik perkuliahan, jurusan Pendidikan Luar Biasa UM ini sama-sama menuntut kemampuan sosial humaniora dengan ilmu alam. Beberapa mata kuliah yang membuat PLB istimewa adalah neuroscience, enterpreneurship, penjas adaptif, dan anatomi fisiologi. 

Jadi selain mendapatkan ilmu mengenai cara penanganan anak normal maupun anak berkebutuhan khusus, mahasiswa juga bisa hidup mandiri baik secara finansial maupun kesehatan fisik dan mental.

Peluang Kerja Terbuka
Salah besar jika orang awam menganggap lulusan Pendidikan Luar Biasa akan kesulitan mencari pekerjaan. Di sini mindset yang ditanamkan oleh para dosen tidak terbatas bagaimana cara menjadi guru yang baik dan disenangi anak-anak. Para mahasiswa diberi brainwash bahwa setelah lulus nanti bisa bekerja di ranah apa saja, asalkan tetap komitmen mengabdi untuk kebutuhan pendidikan khusus di Indonesia. 

Mendirikan sekolah luar biasa baru, menjadi pejabat pemerintah, pengusaha dan yang lainnya tidak masalah asalkan bermanfaat bagi masyarakat. Namun walaupun tampaknya pasrah terhadap kehendak Tuhan, nyatanya banyak sekali mahasiswa semester atas yang bahkan belum lulus sudah dipesan oleh SLB maupun Therapy Center dan keluarga untuk menangani anak-anak spesial mereka.

Saking tingginya kebutuhan lulusan Pendidikan Luar Biasa di Indonesia yang oleh BPS Tahun 2010 dinyatakan 10% dari jumlah penduduk Indonesia keseluruhan, para dosen PLB UM bahkan sampai bingung harus mencarikan mahasiswa yang sudah selesai masa studinya karena memang jumlahnya sangat tidak seimbang dibandingkan kebutuhan lapangan.

Jika mahasiswa memiliki nilai plus seperti menguasai bahasa asing, maka peluang untuk melebarkan sayap ke luar negeri juga terbuka lebar. Di luar negeri Pendidikan Luar Biasanya sudah sangat maju. Sebut saja Amerika Serikat dan Finlandia. Menyadari hal-hal tersebut tadi di PLB UM mahasiswa diajarkan seluruh jenis hambatan pada anak berkebutuhan khusus. 

Harapannya dengan menyiapkan ketrampilan mengatasi seluruh jenis hambatan, tidak akan ada alasan ‘saya dulu waktu kuliah tidak mengambil autis’ padahal saat itu seluruh pendidik di SLB tersebut kewalahan mengatasi anak dengan hambatan autis tersebut, sementara anak berhambatan lain sudah tertangani dengan baik.

Read More

Sunday, January 7, 2018

Naskah Orasi di Depan Calon Mahasiswa

Assalamu’alaykum Wr Wb
Assalamu’alaykum Wr Wb
SMAPTA!
Ribuan tahun lalu ada seorang pemuda yang memiliki tekad mempersatukan nusantara di bawah satu bendera panji Majapahit. Semua pelajar kita tahu siapa namanya. Gajah Mada. Seorang pemuda yang menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara di zamannya memiliki visi jauh ke depan. “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.” Yang kemudian dijadikan pegangan bagi segenap rakyat Indonesia setelah merdeka.
Bayangkan jauh di zaman itu orang-orangnya telah memahami keadaan bangsanya untuk kemudian menyusun strategi mempersatukan semua golongan. Lantas apa yang terjadi di zaman kita dewasa ini seharusnya sudah cukup menyentakkan kesadaran. “Apa yang sudah saya berikan untuk bangsa ini atas kesegaran air yang diberikan sebagai penghidupan, atas sinar matahari yang membuat bangsa lain berdatangan kemari, atas tanah yang katanya secuil turunan surga, atas seluruh kekayaan alamnya yang seperti gadis seksi dan membuat Indonesia diincar bangsa-bangsa asing.” Jangan menutup mata, bekas kejayaannya ada di bumi tempat kita semua berpijak hari ini. Kediri.
Pernahkah kawan-kawan di sini bersedih, tiba-tiba insomnia ketika mendengar emas-emas kita yang terbaik di dunia diambil oleh orang asing sedangkan masyarakat di sekitarnya masih terbelakang dalam pendidikan dan kesejahteraan. Pernahkah kawan-kawan merasa marah setiap hari terjebak kemacetan sementara cuaca dan udaranya panas, pengap, penuh polusi lalu berpikir keras jalan keluar model apa yang dapat aku sumbangkan untuk menyelesaikan keruwetan jalanan? Dan pernahkah kawan-kawan bingung kesana-kemari mencari referensi untuk mencarikan solusi atas pertikaian-pertikaian yang tercipta akibat berebut rupiah di panggung politik? Semuanya akan mulai terasa pada saat kita menjadi mahasiswa.
Jika ada Bapak Ibu di jajaran akademik mengatakan ‘belajar yang rajin saja ya nak, jangan macam-macam.’ Maka dengan lembut mari kita iyakan ‘iya Bapak/Ibu. Kami tentu akan belajar memahami realitas, membaca lebih banyak buku untuk mencari jawaban atas kebingungan-kebingungan mengapa kehidupan memberikan banyak sekali permasalahan.’ Menjadi maha dari sekian tingkat jenjang sekolah formal akan memberimu rasa lega sekaligus syukur. Bukan untuk dipamerkan karena sudah memiliki almamater bergengsi. Bukan. Ini semua adalah babak dimana pengabdian dimulai.
Turut bersedih ketika mendengar wacana baru dilontarkan oleh pemerintah setiap tahunnya. Beberapa diantaranya direalisasikan kepada anak-anak kelas 3SMA yang hendak masuk ke perguruan tinggi. Jika saat ini yang jurusannya IPA benar-benar dilarang masuk ke perguruan tinggi lintas jurusan maka dengan kasih sayang kami jelaskan kondisinya kepada adik-adik.
Indonesia, melalui Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB) tahun 2015, berkomitmen ikut agenda pembangunan global pada kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG). Kerangka itu ialah perpanjangan program Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal/MDG) yang selesai tahun 2015 lalu.
Indonesia kita sudah terlambat 8-10 tahun dalam pelaksanaan MDG, sehingga belum mampu mencapai target 19 indikator dari 67 indikator MDG. Indikator yang tidak tercapai antara lain mengurangi penduduk miskin, menekan kematian ibu melahirkan dan meminimalkan jumlah balita bergizi kurang. Sebagian besar dari indikator di atas ada dalam sektor kesehatan, namun dipicu berbagai sektor lain seperti pendidikan, sanitasi dan keterbatasan infrastruktur. Kegagalan pencapaian target MDG juga disebabkan kurang dilibatkannya kelompok masyarakat sipil dan dunia usaha. Data ini diambil dari Kompas tahun 2016.
Jadi kami sendiri yang sudah duduk di perguruan tinggi pun berharap adik-adik menjadi generasi pencetus inovasi solutif, bukan hanya mengomentari. Sering ada intermezo di kalangan kami sendiri. Tanpa menyepelekan anak IPS karena saya sendiri juga IPS katanya negeri ini sudah terlalu banyak lulusan IPS. Itu mengapa lebih banyak penduduk berkomentar daripada memberi jawaban dari problem sosial. Kita butuh lebih banyak pengembang teknologi, arsitek, dokter, dan berbagai disiplin ilmu dalam rumpun alam dan teknologi untuk menjadikan Kediri semetro Jakarta, sesejuk Malang, seromantis Bandung. Nanti jika sudah di perguruan tinggi, adik-adik tidak akan sempat mengeluh lagi karena semua ini realitas yang harus dihadapi.
Silahkan adik-adik nanti tanyakan kepada kakak-kakak yang ada di sini. Apakah pernah mendengar dosennya menjelaskan tentang kebutuhan Indonesia. Visi  rencana pembangunan jangka panjang nasional 2005-2025 adalah Indonesia yang maju, adil, dan makmur. Memang hanya 3 kata saja, tapi usaha mewujudkannya memerlukan kerjasama dari semua pihak  termasuk kaum muda. Dan kaum muda yang banyak menjadi tumpuan adalah mahasiswa. Kenapa? Selain karena memang semangat  muda biasanya menggebu-gebu untuk merubah dan memperbarui kondisi yang membosankan. Mahasiswa adalah golongan muda yang punya intelektualitas, yang jumlahnya pun mengerikan bila bersatu, dan kita datang berbagai disiplin ilmu kebutuhan negara serta tersebar di berbagai wilayah negara ini.
Adik-adikku, ada saatnya dimana keluhan-keluhan kita kepada pemerintah yang terlihat semakin mempersulit, merepotkan akan berganti menjadi ucapan ‘Oke, saya sadar keadaannya dan saya siap jadi agen perubahan itu.’ Tidak rindukah kita semua pada cerita ayah bunda, kakek nenek tentang betapa dulu Indonesia dapat menjadi macan Asia, diplomatnya disegani di kancah internasional, berasnya kita swasembada. Sekarang? Jangankan beras swasembada malah muncul beras plastik, impor garam sampai tenaga kuli saja kita impor dari asing. Di bangku perkuliahan ketika nanti kita sudah menyandang gelar ‘mahasiswa’ perlahan-lahan kita akan mengerti mengapa semua hal itu terjadi. Sehingga kita tidak sempat menyalahkan pemerintah atau pihak tertentu atas kondisi yang terjadi.
Iklim mahasiswa adalah iklim ilmiah. Selamat datang di dunia penuh dinamika dan hampir segalanya dapat dijelaskan. Ketika nanti jam tidur mulai berkurang terus menerus demi  tugas-tugas kuliah, demi meneliti kasus baru, demi mengutak-atik barang di laboratorium mohon tutup mulut supaya tidak terus terusan mengeluh. Anggap saja ini semua demi balas jasa kepada tanah air kita. Atas seringnya cengingisan kita saat upacara hari Senin sepanjang 12 tahun padahal pemuda pendahulu kita rela bertikai dengan golongan tua serta menghadapi militer asing beberapa negara hanya demi mengatakan satu kalimat ajaib “Indonesia merdeka dan berdaulat.”
Merdeka!
Jangan sampai kemudian kita acuh terhadap kondisi bangsa ini. Jangan sampai kita jadi manusia yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung. Setiap hari menghirup udara hasil pohonnya Indonesia tapi enggan terlibat memperbaiki tatanan kehidupannya malah merusak. Kontribusi tidak selalu harus berdampak besar langsung saat itu juga. Satu per satu, selangkah demi selangkah. Kita mulai dari  diri sendiri. Sikap, manajemen waktu, manajemen hati, manajemen hidup yang visioner yang sudah tahu satu-tiga-lima-sepuluh tahun ke depan akan menjadi manusia seperti apa.
Coba di sini adik-adik siapa yang sudah punya rancangan mau kuliah dimana? Angkat tangan!
Yang sudah pasti kerja!
Yang sudah yakin dengan cita-citanya akan menjadi apa, dimana dan kapan?
Yak. Kami ucapkan selamat datang di dunia mahasiswa. Di mana bila kita enggan keluar dari zona nyaman semasa kuliah, hanya pulang pergi kuliah-mall-cafe saja maka bersiaplah menjadi onggokan pengangguran. Kecuali jika Tuhan berbaik hati menjodohkan kita dengan pasangan mapan. Itupun tidak menjamin. Bagi adik-adik yang memilih kuliah di jurusan berprospek menjanjikan ‘katanya’, hari ini kami katakan. Jaminan itu jadikan motivasi saja. Jika pasar membutuhkan lulusan jurusan itu dan siap menggaji tinggi maka bukalah pikiran kalian, pasti bukan hanya kalian saja yang tergiur mendapatkan posisi tertentu tersebut. And welcome to the jungle.
Dunia pekerjaan kejam, akan ada saatnya kita terpaksa menjegal teman sendiri demi sebuah posisi. Maka persiapkan amunisimu lebih dini. Mari mengambil peran, mari menjadi generasi intelektual yang bukan hanya mencaci tapi juga memberi solusi. Jika berkeras tidak mau terlibat maka kita tidak pantas marah saat koruptor sekelas Setya Novanto semakin menjadi-jadi, atau tanah lapang semakin sempit, beras semakin mahal, biaya sekolah bertambah, dan pada akhirnya tibalah di zaman umur matang tapi nikah menjadi barang mewah. Jangan salahkan keadaan karena pengutukanmu tidak akan merubah apapun. Lebih baik mari kita akhiri dengan menyanyikan lagu wajib mahasiswa yang melegenda. Totalitas Perjuangan. Semoga Tuhan meridhoi niat baik kita dalam memilih perkuliahan.
 Wassalamu’alaykum Wr Wb
Read More

Wednesday, October 18, 2017

Mahasiswa UM Melayani Anak Berkebutuhan Khusus di Desa Tersembunyi



Menjadi luar biasa memang butuh air mata, keringat bahkan darah yang harus dikorbankan sebelum mencapainya. Kira-kira ucapan dari Bapak Mantan Presiden ke-3 RI, Ing. B.J Habibie bikin aku tidak gampang tertarik dengan hasil-hasil menggiurkan tanpa proses. Keinstanan memang menggoda, tapi ibarat mie instan, proses itu tidak menyehatkan sama sekali. Hanya saja memberi kepuasan sesaat, kenyang sebentar.

Dahulu ketika sedang menempuh pendidikan sejak SD-SMA, aku punya banyak cita-cita yang ku pikir semuanya tinggi. Aku tidak ingin menyebut diriku sendiri tidak tahu diri, tapi marilah kita sama-sama membangun mental positif dan percaya kita juga bisa menjadi apa yang kita impikan. Bukankah Tuhan telah mengizinkan kita bermimpi? Lantas kenapa harus ragu kalau impian-impian besar terlalu muluk?
Jendela Depan SLB Tamima Mumtaz

Membanggakan Indonesia?
Memberikan warna pada kehidupan orang lain ternyata tidak harus dengan kita menjadi pengendali kekuasaan di negara ini. Pikiran simpel yang baru aku pahami pada saat di bangku perkuliahan mendorong kami untuk take action daripada hanya sekadar menyusun mimpi sistematis. Selama ini kami berani bermimpi, tapi belum tahu keajaiban bagaimana yang akan diturunkan Tuhan agar harapan-harapan baik itu bisa menjadi kenyataan.


Membuat orang lain dalam suatu lingkungan tersenyum karena merasa kondisi hidupnya sudah lebih baik merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kami, dan kamu pastinya. Apalagi kalau melihat mereka semakin mendekatkan diri pada Tuhan sebagai bentuk rasa syukurnya, sensasi kalau ternyata keberadaan kita useful bakalan lebih plus-plus.


Di sini aku ingin bercerita tentang action yang udah aku dan teman-teman serta kakak-kakak dari HMJ PLB UM (Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang) berikan untuk masyarakat. Yakan kembali lagi ke tridharma perguruan tinggi –ceilah, ala PKKMB- dimana tridharma ketiga,  yaitu pengabdian belum menjadi bagian dari jiwa mahasiswa sekarang. Aku tidak bermaksud menjudgement siapapun karena ini sebenarnya juga notes for myself. Mungkin kalau nggak diajakin sama kakak-kakak yang super inspired ini aku juga gak akan ikutan ngasih kontribusi.
Pasti kamu kalau ditanyain “Kenapa Indonesia harus bangga punya kamu?,” “Yakin udah pantes disebut putra bangsa?” “Udah pernah ngasih apa aja buat Indonesia” dan sederet pertanyaan semacam itu pasti akan muncul ketika kamu berusaha ngedapetin beasiswa, terutama yang sumbernya dari Pemerintah atau lembaga swasta lain yang memang sudah profesional. Yap. Dulu ketika aku masih masa perjuangan reaching beasiswa ini itu aku juga bingung. Duh, aku mah apa atuh, ikut lomba lolos tingkat nasional aja belum, apalagi ngasih medali buat harumin nama negara.

Pikiran seperti itu udah pantes dibilang kolot. Bukankah perubahan besar dimulai dari step-step kecil? Walaupun dikit, tapi real and clear kita ngasih impact ke lingkungan. Itu udah bagian dari membantu usaha pemerintah membangun negara. Iya kan? Lingkungan yang kita bikin senyum itu bagian dari Indonesia kan? That’s why we should remain holding our commitment to serve our sector passion.

OTW Mendirikan SLB
Oke deh, sekarang aku mau langsung cerita apa sih yang udah diusahakan sama HMJ PLB UM buat mendidik putra putri bangsa ini. Well, jadi guru reguler dibanding guru anak luar biasa pastinya tak ternilai. Kita sama-sama dobel dapetnya, akhirat dan dunia. Tapi proses mendidiknya tentu beda. Di sini kelebihannya guru hasil outcome dari Pendidikan Luar Biasa. Kita bisa terjun untuk anak regular maupun anak luar biasa. But,  nowadays beberapa jurusan pendidikan sudah dibekali materi untuk persiapan menjadi guru sekolah inklusif.

Salah Satu Siswa Autis-Low Vision
Ini adalah kegiatan kami ketika berada di Desa Madiredo, Pujon. Pastinya harapan awal kami ingin mendirikan Sekolah Luar Biasa di sana. Namun karena beberapa kendala seperti biaya pembangunan dan operasional, tenaga, sampai waktu jadinya anak-anak yang lucu ini hanya bersekolah pada hari Sabtu dan Ahad. –Ahad sama dengan Minggu.

Jika ada murid 7 termasuk sudah mencukupi dan memang cukup layak disebut sebagai SLB karena telah memungkinkan diselenggarakannya kelas belajar pembelajaran. Namanya juga murid luar biasa, selalu memberikan tantangan yang luar biasa pula kepada siapa saja yang bermaksud terjun menyentuh mereka. Kadang tidak semua orangtua telaten menyekolahkan anaknya meski hanya dua kali dalam sepekan. Tidak semua anak juga memiliki tingkat perhatian dan minat bersekolah tinggi. Dari sini aku sadar, tidak perlu jauh-jauh mencari tempat terpencil di perbatasan Indonesia-Malaysia kalau ternyata di daerah-daerah yang masih masuk Pulau Jawa juga banyak kekurang merataan kesempatan.
Bagian Dalam SLB Tamima Mumtaz

Sementara itu, beberapa anak sangat bersemangat sekolah. Meskipun terkadang harus dijemput dulu ke rumahnya karena keluarganya tidak ada yang mengantar lalu menunggu pendidik sampai datang ke Balai Desa Madiredo –tempat SLB sementara . Melihat senyum di wajah mereka, mengingat ketika mereka menarik tangan kita dan meminta bimbingan menuju SLB Mumtaz –nama SLB sementara- semangat kita justru bertambah lagi. “Ayo sekolah” Ucapan seperti itu benar-benar menjadi pemicu bagi kami para volunteer.

Para murid di sana tidak memiliki hambatan yang sama. Ada yang tunaganda (Ketunaan dobel), autis, low vision (Tuna netra yang masih punya sisa penglihatan meski bendanya harus didekatkan), tunadaksa (Ketunaan pada bagian anggota gerak tubuh), dan tunagrahita (IQ di bawah rata-rata).

Memberi Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus
Yusuf, seorang penyandang autis sekaligus low vision yang dulunya waktu pertama kali mahasiswa kami menyentuh desa tersebut dia tidak banyak bicara. Karakter pendiam, tidak merespon, tapi sebenarnya bisa bahkan cerdas itu adalah salah satu ciri anak autis. Ada kepuasan tersendiri pada saat anak mengalami peningkatan dalam hal apapun. Bagi kami, mengajarkan akhlaq atau tata krama bagi anak luar biasa lebih penting daripada memaksa mereka harus sama seperti orang lain. Kemudian setelah itu, barulah mengembangkan kemampuan kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan psikomotor (keterampilan).




Mengenalkan mereka kepada nama buah, hewan, melempar bola, mengucapkan salam, berkasih sayang sesama teman dan mengajari angka serta alphabet adalah bagian dari usaha kami. Anak luar biasa membutuhkan pengulangan-pengulangan alias repetition pada saat dia mempelajari sesuatu yang baru. Jika guru tidak telaten, sama-sama kasihan antara anak dan guru itu sendiri. Oleh sebab itulah kami juga berusaha all out melayani kebutuhan khusus mereka.

Kakak dari salah satu ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sering membelikan es krim di ujung jam kelas. Stimulus seperti ini bisa membiasakan diri anak mandiri mengurus dirinya sendiri seperti makan tanpa bantuan orang lain.
sumber: dok pribadi
Ada satu anak bernama Putri yang membuatku ingat lagi betapa pentingnya apresiasi terhadap karya orang lain. Putri ini seorang tunadaksa juga tunagrahita. Umurnya sudah 9 tahun tapi tubuhnya sangat kurus kering karena tidak tumbuh secara sempurna. Untuk mandi saja dia masih bergantung kepada ibunya. Namun dia menyadarkan kami akan nilai “Kalau ingin dihargai maka hargailah orang lain.” Setiap Putri berhasil menyebutkan nama buah atau sukses melakukan instruksi lain dari guru, dia selalu meminta orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan untuknya.

Putri belum bisa bicara, lidahnya sangat pendek. Jadi dia menepuk lantai atau memegang orang yang belum memberi tepuk tangan untuk keberhasilannya. Sehingga kami terbiasa memberi apresiasi tanpa diminta sebagai bentuk penghormatan atas usaha orang tersebut, baik benar atau salah, sesuai ekspektasi atau tidak.

A Circumstance
Lalu bagaimana awal mulanya mahasiswa UM bisa menjadi pendidik di Desa https://visitmadiredo.wordpress.com/2016/01/29/visit-madiredo/. Dulunya tempat ini menjadi lokasi KKN kakak tingkat sebelumnya. Kami juga melihat ada beberapa Universitas selain www.um.ac.id yang pernah menjangkau tempat tersebut. Beberapa peninggalan berupa mainan dan media ABK adalah sumbangan dari mahasiswa www.ub.ac.id dan www.uns.ac.id. Setelah itu HMJ PLB UM beserta dosen di sini berinisiatif melanjutkan pemberian layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sana.
Jalan Menuju Desa Madiredo


Ibu Lurah Desa Madiredo sampai saat ini masih mengusahakan dukungan sarana prasarana yang lebih mendukung demi kemajuan penyelenggaraan pembelajaran. Hingga kini pun kami sebagai volunteer masih mencari ke sana-ke sini bantuan buku untuk materi anak TK, supaya anak-anak di sana punya lebih banyak pengalaman nyata dalam usahanya mengenal dunia di mana setiap benda punya nama dan setiap kejadian ada ceritanya.

Jangan ditanya dikasih gaji berapa buat rasa capek Kota Malang-Pujon dua kali sepekan. Bukannya masing-masing dari kita juga butuh liburan, ada tugas kampus, harusnya jatah pulang kampung? Okedeh. Don’t bothered the other. Jangan ngrepotin temen kamu yang udah jaga komitmen melayani anak berkebutuhan khusus dengan hal-hal egois. Kalau kita tulus ikhlas dan berkomitmen inshaallah pasti ada aja keberkahannya kok. Seriusan deh. Bisa jadi lebih lancar saat memahami materi di kelas, lebih dekat sama dosen, atau semakin dekat sama jodoh –eh. Soal liburan, slow man slow, pelayanan bukan mengasingkan diri kok. Madiredo yang terbilang terpencil ini indah banget. Ala hawa kaki pegunungan gitu.


Hawa Adem Sepanjang Perjalanan


Kami adalah tim. Kalau memang ada yang harus izin ya izin nggak dateng, thus yang lainnya ngegantiin dateng ngajar anak-anak. Kalau gak ada yang bisa, mari kita sama-sama ingat harapan mereka dan orang-orang di Madiredo tentang bisa sekolahnya anak-anak ABK itu. Otomatically kalau masih normal, pasti ada beban moral dong ya. Iya, jaga komitmen itu susah, bukan Cuma komitmen pernikahan, tapi juga komitmen jadi bagian dari  volunteerpujon.

Well done. Sampe sini makasih banget udah nyimak cerita kami sebagai volunteer anak berkebutuhan khusus di Pujon. Semoga manfaat ya, btw kalau ada informasi tentang donatur buku yang tadi komen dong atau email boleh.  Doain semoga segera ada SLB formal di sana :-) Let's bright our environment.
Read More

Wednesday, August 9, 2017

Untukmu yang Merasa Keluarganya Sedang Tidak Baik-baik Saja


source: www.pixabay.com

Pernahkah kamu tersudut antara dua pilihan berat? Seperti harus mengatakan perkataan kasar pada ibu atas suruhan ayah dan terjebak memilih pergi sekolah atau menunggui ayah yang sedang sakit tanpa seorang pun di sisinya? Bagi seorang anak yang mengalami broken home tidak sejak dini, hal-hal seperti ini akan terasa tidak biasa. Well, sekarang aku bingung harus bercerita darimana karena membicarakan kerapuhan rumah tangga berarti menyentuh hati setiap pembaca –dan hatiku pula tentunya.


Teruntuk kamu yang memiliki kisah sedih mengendap tentang kebersamaan keluarga: Bertahanlah sebentar. Kalau untuk cinta saja kamu bisa bilang ‘tak ada yang abadi,’ kenapa tidak untuk rasa perih ini? Kamu mungkin bisa melepaskan beberapa teman yang tak sejalan denganmu. Tapi kamu tak akan mampu menghapus wajah dan kenangan bersama keluargamu

“Aku nggak punya keluarga.”

Teruntuk kamu yang sampai di paragraf ini mengatakan hal di atas: Bagaimana kamu menganggap orang yang membuatmu tertawa selama ini? Mereka yang senantiasa berusaha mendengarkan keluhanmu. Tidakkah mereka bagian dari penghuni di hati dan ingatan kecilmu?

Apa kamu tahu betapa orang yang kamu benci karena kekasarannya ini adalah dia yang di setiap langkahnya pergi bekerja selalu berpikir keras cara agar kamu dan saudara-saudaramu tetap berseragam? 

Supaya kalau besar nanti tidak menjadi seperti dirinya yang membuat anaknya bersedih karena tak bisa mengajari Bahasa Inggris maupun sekedar mengeja. Agar suatu hari nanti punya kesempatan belajar ilmu parenting sebelum dipersunting tambatan hati dan melahirkan keturunan lagi. 

Kemarahanmu menutup kasih sayang mereka. Kamu tidak tahu kan bagaimana gembiranya orang yang sekarang kamu rutuki itu saat kamu datang ke dunia bahkan dalam keadaan masih diselimuti darah dan ari-ari belum dipotong. 

Kamu menangis tak berhenti. 

Kamu membangunkan mereka di tengah malam, merengek, menyusahkan saat buang air sembarangan. Dan kamu tidak melihat bagaimana mereka malah bergembira melihatmu terus saja merepotkan seperti itu. 

Mereka tidak sempat berpikir bagaimana cara mengabadikan momen-momen tersebut. Tak ada perkiraan kelak kamu akan sebenci ini lalu memusuhi mereka, mengasingkan diri dari kedekatan bersama keluarga. 

Kamu yang merasa keluargamu sedang tidak baik-baik saja. Adakah kamu sudah memastikan mereka meninggalkanmu sengaja karena menganggapmu bagian dari hukuman yang diberikan Tuhan? Adakah kamu sudah meyakinkan diri dengan segala kelengkapan bukti kalau orangtuamu menitipkanmu karena malu mempunyai dirimu? 

Tidak. Mereka bahkan memikirkan keberlangsungan masa depanmu supaya tetap terjamin. Sebab itulah mereka menabahkan diri memberikan pengasuhanmu kepada yang lebih mampu mengatasi. 

Baca juga:


“Aku tak pernah membagi ceritaku pada orang lain.”

Mengapa kamu menyiksa dirimu sendiri? Kemarilah. Aku memang bukan terapis atau psikiater, tapi aku berjanji akan selalu mendengarkan ocehan tentang hidupmu yang keras. Sesekali kamu boleh menangis di bahuku. Uraikanlah semua beban yang kau bungkus sendirian. Bahumu memang kuat, namun tidakkah kamu ingat bahwa seseorang yang kelihatan paling kuat masih butuh dikuatkan. Ini karena mereka selalu dianggap mampu melakukan segalanya tanpa harus dibantu. Padahal setidaknya setiap orang membutuhkan teman berbagi. Rasa juga cerita. Asa pun luka dalam proses perjuangannya. 

Mengapa kamu menangis dan menyimpan segalanya sendirian? Maafkan aku yang tak selalu ada di sampingmu. Maafkan aku yang tidak selalu merespon cepat setiap chat yang kau tujukan padaku. Tolong maafkan aku atas perkataanku yang menganggap masalahmu sebagai ujian ringan. Saat itu aku lupa bahwa manusia tidak tumbuh dari akar yang sama. Lingkungan kita berbeda dan aku benar-benar tak ingat akan hal ini. Ya. Aku sudah mencoba merasai air matamu yang masih terbendung di kantungnya.

Aku harap kamu memahami bahwa aku pun memiliki beberapa urusan yang tak bisa ditinggalkan semauku. Bersabarlah sebentar jika aku menangguhkan waktu untuk memelukmu. Jangan pernah kamu berpikir aku tak menganggapmu penting dalam hidup. Ini hanya tentang mendesak atau tidak. Bahwa ternyata di luar sana bukan hanya kamu yang membutuhkan pelukan dan perlu ditenangkan sesegera mungkin. Ada banyak remaja seusiamu yang sedang muak dengan keadaan di rumah. 
source : www.pixabay.com

Seharusnya rumah adalah tempat pulang paling dirindukan.  Kamu tidak perlu marah pada mereka yang sering mengunggah momen kehangatan keluarga di sosial media. Kamu tahu, kamu pun dapat melakukan hal yang sama. Hanya saja Tuhan sengaja membuatmu unik. Itu karena kamu memang dirancang menjadi remaja yang lebih kuat dari rata-rata. Mereka tumbuh bahagia di setiap postingan sosial media. Itu menurutmu bukan? Belum tentu kenyataan. 

Setiap keluarga memiliki ceritanya masing-masing. Begitu pula aku dan kamu. Kadang kala aku pun malu jika harus menguak kembali masa kelam kami sekeluarga dalam usaha mempertahankan keutuhan. Marilah kita sama-sama sadari bahwa rumah tangga belum pantas disebut sempurna bila belum berhasil melewati serangkaian ujian. 

Ada krisis ekonomi yang menguji kesetiaan orangtuamu satu sama lain. Beberapa pasangan memilih mencari pendamping hidup lainnya bahkan tanpa memperhatikan adakah getaran cinta kepada pasangan baru mereka. Ini semua demi keberlangsungan hidup sejahtera, terutama ibu yang harus menghidupi anak-anaknya. 

Bagi keluarga kaya adakalanya perempuan tak tahu diri menyelinap masuk menyentuh raga kepala rumah tangga. Para Ayah juga manusia. Setelah melakukan perbuatan memalukan itu mereka juga terluka. Apalagi ketika melihat raut muka putra putrinya. Apa kamu sadar akan hal ini?

Sampai di sini apa kamu masih tak percaya padaku? 

Kenapa kamu menangis, sayang? Jangan menangis sendirian. Apa gunanya Tuhan menciptakan aku yang sekarang ada di sampingmu? Mendekatlah. Kamu akan lebih baik nantinya. 

Kalau kamu merasa tak kuat menjelaskan sekarang, diamlah. Biarkan aku terus mengelus rambut hitammu dan mengusap air yang mengering di pipimu. Perkara kamu akan lebih baik kapan janganlah dipikirkan. :)
 
Dulu, sewaktu keluarga kami goyah awalnya aku juga tak terima. Aku menangis menyalahkan ayah, ibu, kakak, bahkan takdir. Astaghfirullah. Barulah sekarang ketika telah tenang aku menyadari bahwa merutuki keadaan tidak akan mengembalikan kehangatan di keluarga kami. Apa kamu saat ini ada di posisi seperti itu? Luapkanlah. Luapkan semua emosi yang membuatmu merasa kesakitan. Buang. Buang sejauh-jauhnya semua penyesalan dan umpatan setelahnya. 

Percayalah padaku, kamu akan segera merasa lebih baik :). Minumlah. Air putih akan menghilangkan kekeruhan di pikiran dan hati kita bersama. Saat ini: i swear i’ll be here for you. Just tell me the story and let me to hug you. Even i tear i try to hear. Healing you and grow up my gentle side. 

Apa kamu ingin ku bacakan sesuatu yang menenangkan? Sini. Duduk dan dengarkanlah. Allah. Tuhan kita telah menghibur tanpa diminta. Kalau aku sedang di posisimu aku paling suka membaca Al Balad ayat 4 “Sesungguhnya manusia diciptakan dalam susah payah.” Tapi bagi ku juga banyak orang, Al Insyirah dan Ad Dhuha adalah healer yang paling manjur. Entah mengapa setiap hatiku kacau seperti kamu sekarang ini aku selalu merasa lebih tenang sekalipun tak ada seseorang yang menguatkan. :))
Read More